Modul 4 : Mengenal Empat Unsur Utama dalam Cerita
Icha Ingin Ikut Piknik ke
Jakarta
Oleh : Johanes Krisnomo
Icha, anak semata wayang. Gadis manis 9
tahun ini, berkulit agak gelap dan bermata bulat. Bersekolah di SD Negeri,
kelas 3, Kota Cimahi. Ayah Icha di PHK beberapa tahun lalu, dan tak punya
pekerjaan tetap. Meski sebagian uang
pesangon telah digunakannya untuk
modal buka warung sayur-mayur dan beberapa keperluan sehari-hari, tapi
kehidupannya belum beranjak dari kemiskinan.
Di ruang tamu, Icha lahap menyantap
sarapan paginya, nasi dan tempe goreng. Icha menyuap nasi dengan sendok tanpa
garpu. Matanya tak fokus menatap nasi. Ada rasa bosan, menu makan yang sama
hampir tiap hari. Nasi dan tempe goreng.
Tiba-tiba, matanya menatap selembar
kertas yang terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil, dan
dibacanya. Ternyata Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara,
perihal peringatan akan pencabutan aliran listrik karena telah menunggak dua
bulan.
Icha terkejut, selama ini baik-baik
saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik.
Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total.
Dahinya terlipat membentuk garis-garis
lengkung. Pagi itu, Icha kecewa berat. Ibunya tak memberi uang jajan pula, saat
Icha hendak berangkat ke sekolah. Kata ibu, “Uangnya dipakai tadi pagi subuh,
untuk keperluan belanja warungnya di pasar.”
Pagi itu, Icha dan Santi berangkat
bersama ke sekolah, seperti hari-hari biasanya. Sepanjang perjalanan itu pula, Icha
nampak tak begitu semangat becanda kepada Santi.
Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa
temannya sering mengajak Icha jajan. “Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata
hatinya meratap, saat beranjak dari rumahnya hendak menjemput Santi. ”Apa yang
harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”tanya Icha dalam hati.
Kekesalan hati Icha, masih mengendap
dalam pikirannya, selama jam belajar hingga pelajaran berakhir. Terlebih lagi,
sebelum pulang, Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa akan ada piknik ke Taman Mini Indonesia Indah
– Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan.
Icha membayangkan apa yang diceritakan Bu
Guru. Alangkah senangnya piknik bersama teman-teman naik bis, lewat jalan tol
yang selama ini belum pernah dilihatnya. Berangkat pagi, dari sekolahnya di
kawasan Kota Cimahi sampai Taman Mini, sekitar empat jam perjalanan. Sampai di sana, makan siang,
kemudian berkeliling di beberapa anjungan rumah-rumah adat dari seluruh
Indonesia, dan kembali ke Cimahi pada siang harinya sekitar jam tiga. Namun,
keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?
Icha berjalan kaki pulang ke rumahnya
yang tidak jauh dari sekolah. Santi berceloteh riang bersama Santi, yang rumahnya
hanya berjarak tiga rumah dari rumah Icha. Namun, hati Icha terganggu masalah
piknik. Tak banyak yang Icha ceritakan kepada Santi.
Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya,
“ Kamu ikut, Icha?” Jawab Icha tersendat, “Belum tahu! Coba nanti kutanyakan
pada ibu.” Bola mata Icha mengecil, ada guratan menekan di lipatan kelopak matanya.
Celoteh mereka berdua terhenti, Santi sampai rumah terlebih dahulu.
Dari balik jendela warungnya, Ibu
tersenyum menyambut datangnya Icha. Ada wajah lelah di wajah ibu, matanya sayu
menahan susah.
“Ibu ... , Icha pulang!” Icha menyapa
ibu dari depan warungnya. Dari pintu samping, Ibu mendekati Icha yang sudah
berada di ruang tamu. “ Makanlah Icha, tempe tadi pagi sudah ibu goreng lagi,”
kata ibu. “Ganti baju dulu, cuci kaki dan tangan, baru makan ya,”kata Ibu menambahkan.
“Baik, Bu,“ jawab Icha sambil berlalu
menuju kamar mandi. Setelah badannya bersih, Icha berganti baju dan langsung
makan.
Icha masuk kamar, merebahkan badan
setelah makan kenyang. Nikmatnya terasa, perut laparnya boleh jadi karena tak
jajan di sekolah. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak
tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di
lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri
untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian
atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak
masih bayi.
“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya
perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis
bagian-bagian yang berdebu. Saat baru saja merapikan boneka, datang Santi berteriak-teriak
mengajak bermain. Ada beberapa temannya yang sudah siap menunggu tak jauh dari
rumah.
Gagal sementara, rencana Icha merapikan
boneka-bonekanya. Santi mengajak bermain game di rumahnya. Ada dua set komputer
yang bisa dimainkan bersama teman-temannya. Hingga siang jam setengah empat,
akhirnya Icha baru kembali ke rumah.
Icha sesegera mungkin membereskan
boneka-bonekanya. Kekecewaannya dilampiaskan dengan cara cepat-cepat menata dan
merapikan boneka-boneka di atas lemari di kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Icha
terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang! Icha tampak bersemangat, lelahnya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan,
seperti boneka-bonekanya. “Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!”
gumamnya. “Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya.
Icha keluar kamar tidurnya, sesegera
mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan
bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan
banyak uang. Buat bayar listrik juga.
Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya
seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha
akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang
berbelanja!”
Ibunya terperangah, seolah tak percaya
akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu
ibu di rumah. “ Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.
Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “
Pastilah Bu ...!”
“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata
lembut.
“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot
lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah
terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.
Ibunya menggangguk, namun belum mengerti
sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik
ke Jakarta. Pengalaman Icha tahu kesulitan bayar listrik, warung sepi pembeli dan
senyum tulus seorang ibu telah merubah perilaku Icha untuk membantu
orangtua-nya. (jk*)
Cimahi, 28 Maret 2018
Selamat Malam Mak Yunita,
BalasHapusTugas Modul-4 sdh saya terkirim, sesuai jadual yaitu Hari Rabu.
Meskipun mendekati Jam 12. Malam, tapi khan masih hari Rabu.
Mungkin masih ada beberapa kesalahan.
1. SPO masih ada kesalahan.
2. Jalan cerita masih kurang mulus, kurang ada rasa, masih kaku.
3. Jalan Cerita mungkin masih kurang jelas motivasinya, mengapa Icha sadar.
4. Susunan kisah saya rombak dg cara menggeser paragraf2 saya susun ulang.
5. Beberapa paragraf sdh saya perkaya dg keterangan atau penjelasan2 yg
lebih rinci. Berbeda sdkt dg yan sebelumnya.
Terlepas dari itu semua saya haturkan utk dikoreksi dan dibedah semaksimal mungkin agar nantinya menjadi Cerpen yg berbobot.
Sekian dan terimakasih,
Johanes Krisnomo
Rabu, 28 Maret 2018
Pak Johanes, terima kasih atas tugas Modul ke-4 yang sudah disampaikan.
BalasHapusSaya sangat senang membacanya.
Betul, Bapak banyak melakukan revisi sehingga cerita tersebut sudah tidak berbentuk draft lagi. Alurnya sudah cukup mengalir dan ceritanya menjadi lebih kaya dengan tambahan keterangan. Namun saya juga lega karena Pak Johanes mempunyai catatan beberapa hal yang masih mengganjal, dengan demikian kita bisa lebih fokus dan mudah untuk mencari solusinya. Berikut ini beberapa pendapat dari saya:
1. Mengenai SPO, revisi Bapak sudah sangat baik. Semoga Pak Johanes akan menjadi terbiasa menulis kalimat dengan urutan SPO.
2. Mengenai jalan cerita yang kurang ada rasa dan masih kaku, saya menduga hal itu dikarenakan dalam satu atau dua paragraf sekaligus, Pak Johanes hanya mencantumkan data-data belaka. Ibaratnya kalau orang membangun rumah, Pak Johanes hanya mencantumkan apa saja materi yang dibutuhkan, namun materi itu belum digunakan dan disusun menjadi rumah yang utuh. Contohnya Paragraf pertama dan paragraf kedua, masih sangat terasa keduanya sarat dengan kalimat keterangan, bukan kalimat cerita. Pak Johanes bisa menyiasatinya dengan cara memindahkan keterangan-keterangan tersebut di dalam paragraf-paragraf lainnya. Jangan semuanya dikumpulkan jadi satu di pembuka cerita. Untuk paragraf pertama, cukup diperkenalkan tokoh utamanya saja dulu. Coba ditambahkan keterangan waktu, apa yang dilakukan, bagaimana situasinya, dan seterusnya. Misalnya saya beri contoh seperti ini:
Pagi itu, seperti biasa Icha sarapan seorang diri di ruang tamu. Sinar matahari masuk ke dalam rumah melalui kisi-kisi jendela. Burung kecil bercericip di pohon depan rumah, namun anak gadis manis berkulit gelap itu nampak tidak bersemangat. Meskipun nasinya hangat dan tempe gorengnya harum namun hatinya bosan karena hampir setiap hari menu sarapannya sama.
Bapak sudah pergi mencari kerja sejak hari masih gelap. Ibu sedang sibuk di warung sayur-mayur melayani pembeli. Sebagai anak tunggal murid kelas 3 di SD Negeri, tugas Icha hanyalah belajar.
Tiba-tiba pandangan matanya tertuju kepada selembar kertas tergeletak di lantai dekat bangku ia duduk. Icha mengambil kertas itu dan membacanya. Keningnya langsung berkerinyut , kertas itu adalah surat peringatan dari PLN (perusahaan Listrik Negara). Kalau orangtuanya tidak segera membayar listrik yang sudah menunggak dua bulan, maka PLN akan memutuskan aliran listrik di rumah mereka.
Kira-kira begitu contoh pembukaannya, ada tokoh utama, keterangan waktu, suasana, dan suatu peristiwa yang akan mengarah kepada masalah dalam cerita tersebut.
BalasHapus3. Masalah dalam cerita revisi Bapak itu menurut saya sebenarnya masih belum jelas. Setelah kita membaca paragraf pertama sampai keempat, kita melihat Icha kaget karena orangtuanya mendapat teguran dari PLN karena menunggak pembayaran listrik. Sebetulnya saya agak ragu apakah anak usia 9 tahun sudah bisa mengerti isi surat pemberitahuan seperti itu dan anak seusia Icha sudah bisa menalar keadaan orangtuanya yang kekurangan? Tapi kalau menurut Pak Johanes ada anak yang bisa berpikir seperti itu, saya tidak masalah karena setiap anak mempunyai tingkat kedewasaan dan pemikiran yang berbeda—tergantung dari lingkungan keluarga yang membesarkan dia.
Dalam hal inilah pentingnya kita memutuskan bagaimana karakter/sifat tokoh utama kita. Karena itu di dalam Modul ke-4 kita belajar mempersiapkan tokoh-tokoh dalam cerita kita, baik mengenai sifat mereka maupun fisik mereka. Tokoh-tokoh yang bukan utama berperan membantu memunculkan sifat asli karakter utama, dan dalam perjalanan cerita, sampai akhirnya tokoh utama akan mengalami perubahan atau pembaharuan hidup.
Kalau Icha sudah diajarkan orangtuanya memahami keadaan keluarganya yang pas-pasan, dia pasti tidak akan kesal saat tidak diberi uang jajan. Tapi di dalam cerita Pak Johanes ini, nampaknya orangtua Icha berusaha tidak mengatakan langsung keadaan mereka yang pas-pasan kepada Icha. Mereka juga berusaha tidak membebani Icha dengan tugas-tugas pekerjaan sederhana di rumah. Semua pekerjaan rumah tangga ditangani oleh ibu, maka tidak heran kalau Ibu terkejut saat Icha mau membantu merapikan dan membereskan warung. Namun dalam cerita ini saya belum melihat bagaimana karakter bapaknya. Apakah Pak Johanes pernah berpikir untuk memunculkan tokoh bapaknya Icha?
4. Di paragraf penutup Pak Johanes menulis bahwa perilaku Icha berubah (dari tidak membantu orangtua menjadi membantu orangtua), karena a) Icha tahu orangtuanya kesulitan membayar listrik, b) warung sepi pembeli, c) senyum tulus sang ibu. Tapi pertanyaannya adalah, bagaimana dengan keinginannya agar bisa ikut piknik ke Jakarta? Karena keinginannya itu bisa juga menjadi masalah. Kalau orangtuanya kesulitan membayar listrik, mungkin yang bisa Icha lakukan adalah merelakan uang jajannya diberhentikan. Mungkin ibunya akan memberi dia bekal pisang goreng atau bakwan goreng sebagai ganti uang jajan dia. Selain itu dia bersedia membantu ibu membereskan warung agar banyak pembeli yang datang. Mengingat keadaan orangtuanya yang pas-pasan, mungkin Icha tidak berharap bisa ikut piknik ke Jakarta, tapi dia sempat memberitahu hal itu ke orangtuanya, dan diam-diam orangtuanya berusaha mengumpulkan uang agar Icha bisa ikut piknik. Jadi di akhir cerita, kita bisa buatkan semacam “mukjizat” atau kejutan untuk Icha yang telah bersedia mengorbankan uang jajannya dan jam mainnya, agar dapat membantu orangtuanya.
5. Mengenai penulisan kalimat langsung, mohon Pak Johanes membuatnya dengan penulisan yang tepat, yaitu menggunakan inden atau masuk menjorok ke dalam. Misalnya dari paragraf ke-14:
“Ibu … Icha pulang!” Icha menyapa Ibu dari depan warungnya. Dari pintu samping Ibu mendekati Icha yang sudah berada di ruang tamu.
“Makanlah Icha, tempe tadi pagi sudah Ibu goreng lagi,” kata Ibu. “Ganti baju dulu , cuci kaki dan tangan, baru makan, ya,” kata Ibu menambahkan.
“Baik, Bu,” jawab Icha sambil berlalu menuju kamar mandi….
BalasHapus6. Dalam paragraf ke-15, dituliskan secara detail ukuran kamar Icha. Menurut saya untuk cerita anak-anak tidak perlu dituliskan secara detail seperti itu, namun cukup dituliskan dengan kamarnya sempit hanya bisa memuat satu tempat tidur kecil, satu lemari kecil dan meja belajar. Demikian juga dengan ukuran jendela, bisa dituliskan jendelanya agak tinggi. Kalau cerita itu akan diterbitkan dengan ilustrasi, kita dapat berdiskusi dengan pelukisnya untuk menggambarkan bagaimana kamar yang dimaksud itu.
Begitulah kira-kira pendapat saya atas revisi cerita Pak Johanes, semoga dapat dipahami. Jika masih ada yang belum dipahami, mohon Pak Johanes menyampaikannya kepada saya, saya akan berusaha membalasnya secepat mungkin.
Oh ya, mengenai tugas dari modul ke-4, saya masih menunggu dari Bapak, bagaimana rincian dari tokoh-tokoh dalam cerita ini. Saya sudah menjawab pertanyaan Bapak mengenai tugas modul ke-4 ini, mohon dicek jawaban saya dan kalau Pak Johanes sempat, mohon dibuatkan tugas tersebut. Tugas tersebut sangat berkaitan dengan cerita bapak ini. Selamat berakhir pekan Pak Johanes, selamat Hari Paskah, selamat berkreasi.
Terima kasih dan salam,
Yunita
Selanat Pagi, Mbak Yunita.
BalasHapusMaaf, saya baru balas singkat krn melaui HP.
Kembali, saya merasa senang dan sangat menghargai apapun yg Mbak Yunita sampaikan sbg koreksi dan pembelajaran.
Sangat detail dan jelas.
Saya tetap akan koreksi hari ini minggu meskipun sibuk dg kegiatan paskah di gereja.
Juga nengenai tokoh Bpk akan saya masukkan sbg pelengkap.
Cerpen saya memang terasa sangat kering dan sulit dimengerti.
Begitu saya baca saran koreksi dari Mbak Yunita sangat terasa bedanya.
Kalau ibarat makanan lebih lezat dan renyah.
Sementara ini dulu yg saya sampaikan dan maaf saya baru baca pagi ini. Spt nya kemarin blm ada.
Harus ngebut ya mbak, krn modul 5 pasti sdh nenanti.
Sekian dan terimajasih.
Salam Sehat Bahagia.
Johanes Krisnomo
Selamat pagi Pak Johanes, Selamat Hari Paskah. Semoga di hari Paskah ini Bapak sekeluarga dapat berbakti dengan sukacita. Terima kasih atas responnya. Saya memang baru mengirim review saya kemarin. Selamat beraktifitas, Pak Johanes. Selamat berkreasi. Terima kasih dan salam,
BalasHapusYunita