PMOH

PESAN-PESAN PENTING

1. Diharapkan semua peserta rajin mengecek "junk email" karena terkadang email dari milis masuk ke kolom tersebut tanpa kita kehendaki.

2. Sebelum menayangkan setiap tugas menulis di blog ini, mohon isi "label" di sebelah kanan dengan nama masing-masing peserta untuk memudahkan pembimbing mengidentifikasinya.

3. Semua tulisan yang telah dikirim dan ditayangkan tidak boleh dihapus, melainkan boleh diedit dan di bagian kanan judul tulisan dapat diberikan keterangan tambahan (misalnya: Edit 1, Edit 2, dst). Dengan begitu hasil review yang ditulis di kolom komentar oleh pembimbing tidak terhapus;

4. Para peserta bebas memberikan komentar yang saling membangun pada tulisan peserta lainnya.

***

Rabu, 28 Maret 2018

Modul 4 : Mengenal Empat Unsur dalam Cerita - Johanes Krisnomo

Modul 4 : Mengenal Empat Unsur Utama dalam Cerita



Icha Ingin Ikut Piknik ke Jakarta

Oleh : Johanes Krisnomo

 Icha, anak semata wayang. Gadis manis 9 tahun ini, berkulit agak gelap dan bermata bulat. Bersekolah di SD Negeri, kelas 3, Kota Cimahi. Ayah Icha di PHK beberapa tahun lalu, dan tak punya pekerjaan tetap. Meski sebagian uang  pesangon telah digunakannya  untuk modal buka warung sayur-mayur dan beberapa keperluan sehari-hari, tapi kehidupannya belum beranjak dari kemiskinan.

Di ruang tamu, Icha lahap menyantap sarapan paginya, nasi dan tempe goreng. Icha menyuap nasi dengan sendok tanpa garpu. Matanya tak fokus menatap nasi. Ada rasa bosan, menu makan yang sama hampir tiap hari. Nasi dan tempe goreng.

Tiba-tiba, matanya menatap selembar kertas yang terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil, dan dibacanya. Ternyata Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara, perihal peringatan akan pencabutan aliran listrik karena telah menunggak dua bulan.

Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total.

Dahinya terlipat membentuk garis-garis lengkung. Pagi itu, Icha kecewa berat. Ibunya tak memberi uang jajan pula, saat Icha hendak berangkat ke sekolah. Kata ibu, “Uangnya dipakai tadi pagi subuh, untuk keperluan belanja warungnya di pasar.”

Pagi itu, Icha dan Santi berangkat bersama ke sekolah, seperti hari-hari biasanya. Sepanjang perjalanan itu pula, Icha nampak tak begitu semangat becanda kepada Santi.
 
Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa temannya sering mengajak Icha jajan. “Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata hatinya meratap, saat beranjak dari rumahnya hendak menjemput Santi. ”Apa yang harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”tanya Icha dalam hati.

Kekesalan hati Icha, masih mengendap dalam pikirannya, selama jam belajar hingga pelajaran berakhir. Terlebih lagi, sebelum pulang, Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa  akan ada piknik ke Taman Mini Indonesia Indah – Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan.

Icha membayangkan apa yang diceritakan Bu Guru. Alangkah senangnya piknik bersama teman-teman naik bis, lewat jalan tol yang selama ini belum pernah dilihatnya. Berangkat pagi, dari sekolahnya di kawasan Kota Cimahi sampai Taman Mini, sekitar empat  jam perjalanan. Sampai di sana, makan siang, kemudian berkeliling di beberapa anjungan rumah-rumah adat dari seluruh Indonesia, dan kembali ke Cimahi pada siang harinya sekitar jam tiga. Namun, keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?

Icha berjalan kaki pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari sekolah. Santi  berceloteh riang bersama Santi, yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah Icha. Namun, hati Icha terganggu masalah piknik. Tak banyak yang Icha ceritakan kepada Santi.

Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya, “ Kamu ikut, Icha?” Jawab Icha tersendat, “Belum tahu! Coba nanti kutanyakan pada ibu.” Bola mata Icha mengecil, ada guratan menekan di lipatan kelopak matanya. Celoteh mereka berdua terhenti, Santi sampai rumah terlebih dahulu.

Dari balik jendela warungnya, Ibu tersenyum menyambut datangnya Icha. Ada wajah lelah di wajah ibu, matanya sayu menahan susah.

“Ibu ... , Icha pulang!” Icha menyapa ibu dari depan warungnya. Dari pintu samping, Ibu mendekati Icha yang sudah berada di ruang tamu. “ Makanlah Icha, tempe tadi pagi sudah ibu goreng lagi,” kata ibu. “Ganti baju dulu, cuci kaki dan tangan, baru makan ya,”kata Ibu menambahkan. “Baik, Bu,“  jawab Icha sambil berlalu menuju kamar mandi. Setelah badannya bersih, Icha berganti baju dan langsung makan.

Icha masuk kamar, merebahkan badan setelah makan kenyang. Nikmatnya terasa, perut laparnya boleh jadi karena tak jajan di sekolah. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak masih bayi.

“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis bagian-bagian yang berdebu. Saat baru saja merapikan boneka, datang Santi berteriak-teriak mengajak bermain. Ada beberapa temannya yang sudah siap menunggu tak jauh dari rumah.

Gagal sementara, rencana Icha merapikan boneka-bonekanya. Santi mengajak bermain game di rumahnya. Ada dua set komputer yang bisa dimainkan bersama teman-temannya. Hingga siang jam setengah empat, akhirnya Icha baru kembali ke rumah.

Icha sesegera mungkin membereskan boneka-bonekanya. Kekecewaannya dilampiaskan dengan cara cepat-cepat menata dan merapikan boneka-boneka di atas lemari di kamarnya.

Beberapa saat kemudian, Icha terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang! Icha tampak bersemangat, lelahnya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan, seperti boneka-bonekanya. “Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!” gumamnya. “Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya.

Icha keluar kamar tidurnya, sesegera mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan banyak uang. Buat bayar listrik juga.

Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang berbelanja!”

Ibunya terperangah, seolah tak percaya akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu ibu di rumah. “ Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.

Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “ Pastilah Bu ...!”
“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata lembut.

“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.

Ibunya menggangguk, namun belum mengerti sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik ke Jakarta. Pengalaman Icha tahu kesulitan bayar listrik, warung sepi pembeli dan senyum tulus seorang ibu telah merubah perilaku Icha untuk membantu orangtua-nya. (jk*)

Cimahi, 28 Maret 2018

Jumat, 23 Maret 2018

Modul 3 Tugas 1&2 Icha Ingin Ikut Piknik ke Jakarta

Modul - 3 Tugas 1&2



Johanes Krisnomo
Target Pembaca : 10 -12 Tahun
Jenis                      : Cerpen
Pelajaran              : Kesadaran seorang anak, untuk membantu Ibu, setelah belajar dari pengalaman dan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Icha Ingin Ikut Piknik ke Jakarta
Oleh : Johanes Krisnomo

Dahinya terlipat membentuk garis-garis lengkung. Icha kecewa berat, saat ibunya tak memberi uang jajan, pagi itu. Icha, gadis kurus berumur 9 tahun, kelas 3 SD. Anak semata wayang.

Kulitnya kehitaman, bermata bulat dan pendiam. Sejak ayahnya di PHK, beberapa tahun lalu dan tak bekerja lagi, Ibu Icha berjualan pisang goreng dan keperluan sehari-hari seperti sabun, odol, kopi dan lain-lain di rumahnya yang mungil.

Saat istirahat sekolah, biasanya Icha jajan di kantin sekolah yang terletak kurang lebih 20 meter di belakang ruang kelas-nya. Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa temannya sering mengajak Icha jajan. “Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata hatinya meratap,” apa yang harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”

Kekesalan hati Icha, masih mengendap dalam pikirannya, hingga pelajaran berakhir. Sedikit terhibur saat Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa akan ada piknik ke Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan. Namun, keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?

Tak jauh Icha harus berjalan kaki pulang ke rumahnya. Celoteh riang bersama Santi, teman sekelas yang cuma berjarak tiga rumah, sebelum Icha.

“Kalau jadi piknik ke Jakarta, alangkah senangnya!” kata Icha.
Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya, “ Kamu ikut Icha?”
“Belum tahu! Coba nanti kutanyakan pada ibu,” jawab Icha tersendat, bola matanya mengecil, ada guratan menekan lipatan di matanya. Ada perasaan galau, seolah tak yakin rencananya akan terwujud.
“Sampai jumpa, besok pagi,” Santi sampai rumahnya terlebih dahulu.
Seorang diri, melanjutkan perjalanan, Icha menatap hampa, tak tahu harus berbuat apa.

Hilang lenyap semua masalah yang dipikirkan Icha, saat masuk pintu rumah. Bau harum tempe goreng kesukaannya, memenuhi rongga hidungnya. “Nikmatnya, tempe goreng,” Icha bicara perlahan, buat dirinya sendiri. “Biasanya, ada sayur asam,” katanya lagi, sambil beranjak ke dapur, menjumpai Ibu-nya setelah menaruh tas sekolah di ruang tamu.

“Ibu, aku pulang!” seru Icha, tanpa menatap wajah Ibu yang sedang sibuk menggoreng tempe.
“ Ayo, Icha segera ganti baju dan makan,” kata Ibunya. “Baik, Bu, “ jawab Icha sambil menyiapkan piring dan akan mengambil nasi di panci.

Di Ruang Tamu, Icha lahap menyantap Nasi dan Tempe Goreng serta Sayur Asem. Kecap-kecap lidahnya, agak terdengar karena lapar.
Samar-samar terlihat selembar kertas terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil, dan dibacanya, Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara, perihal pencabutan aliran. Menunggak dua bulan. Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total. Apa yang Icha bisa lakukan?

Icha masuk kamar, merebahkan badan setelah berganti pakaian sekolahnya. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak masih bayi.

“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis bagian-bagian yang berdebu.

Beberapa saat kemudian, Icha terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang! Icha tampak bersemangat, kantuknya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan, seperti boneka-bonekanya. “Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!” gumamnya. “Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya. Tak jadi tidur!

Icha keluar kamar tidurnya, sesegera mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan banyak uang. Buat bayar listrik juga.

Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang berbelanja!”

Ibunya terperangah, seolah tak percaya akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu ibu di rumah. “ Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.

Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “ Pastilah Bu ...!”
“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata lembut.
“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.

Ibunya menggangguk, namun belum mengerti sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik ke Jakarta. (jk-230318)
Bandung, 23 Maret 2018


 
Icha Ingin Ikut Piknik ke Jakarta

Oleh : Johanes Krisnomo
1.
PEMBUKA.
Dahinya terlipat membentuk garis-garis lengkung. Icha kecewa berat, saat ibunya tak memberi uang jajan, pagi itu. Icha, gadis kurus berumur 9 tahun, kelas 3 SD. Anak semata wayang.
Kulitnya kehitaman, bermata bulat dan pendiam. Sejak ayahnya di PHK, beberapa tahun lalu dan tak bekerja lagi, Ibu Icha berjualan pisang goreng dan keperluan sehari-hari seperti sabun, odol, kopi dan lain-lain di rumahnya yang mungil.
Saat istirahat sekolah, biasanya Icha jajan di kantin sekolah yang terletak kurang lebih 20 meter di belakang ruang kelas-nya. Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa temannya sering mengajak Icha jajan. “Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata hatinya meratap,” apa yang harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”
Kekesalan hati Icha, masih mengendap dalam pikirannya, hingga pelajaran berakhir. Sedikit terhibur saat Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa akan ada piknik ke Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan. Namun, keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?

2.
MASALAH YANG MENGARAH KE AKSI/TINDAKAN
Tak jauh Icha harus berjalan kaki pulang ke rumahnya. Celoteh riang bersama Santi, teman sekelas yang cuma berjarak tiga rumah, sebelum Icha.
“Kalau jadi piknik ke Jakarta, alangkah senangnya!” kata Icha.
Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya, “ Kamu ikut Icha?”
“Belum tahu! Coba nanti kutanyakan pada ibu,” jawab Icha tersendat, bola matanya mengecil, ada guratan menekan lipatan di matanya. Ada perasaan galau, seolah tak yakin rencananya akan terwujud.
“Sampai jumpa, besok pagi,” Santi sampai rumahnya terlebih dahulu.
Seorang diri, melanjutkan perjalanan, Icha menatap hampa, tak tahu harus berbuat apa.

3.
KONFLIK/SUSPEN YANG MENINGKAT
Hilang lenyap semua masalah yang dipikirkan Icha, saat masuk pintu rumah. Bau harum tempe goreng kesukaannya, memenuhi rongga hidungnya. “Nikmatnya, tempe goreng,” Icha bicara perlahan, buat dirinya sendiri. “Biasanya, ada sayur asam,” katanya lagi, sambil beranjak ke dapur, menjumpai Ibu-nya setelah menaruh tas sekolah di ruang tamu.
“Ibu, aku pulang!” seru Icha, tanpa menatap wajah Ibu yang sedang sibuk menggoreng tempe.
“ Ayo, Icha segera ganti baju dan makan,” kata Ibunya. “Baik, Bu, “ jawab Icha sambil menyiapkan piring dan akan mengambil nasi di panci.
Di Ruang Tamu, Icha lahap menyantap Nasi dan Tempe Goreng serta Sayur Asem. Kecap-kecap lidahnya, agak terdengar karena lapar.
Samar-samar terlihat selembar kertas terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil, dan dibacanya, Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara, perihal pencabutan aliran. Menunggak dua bulan. Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total. Apa yang Icha bisa lakukan?

4.

KLIMAKS


Icha masuk kamar, merebahkan badan setelah berganti pakaian sekolahnya. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak masih bayi.
“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis bagian-bagian yang berdebu.
Beberapa saat kemudian, Icha terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang! Icha tampak bersemangat, kantuknya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan, seperti boneka-bonekanya. “Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!” gumamnya. “Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya. Tak jadi tidur!

5.
RESOLUSI/PENYELESAIAN
Icha keluar kamar tidurnya, sesegera mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan banyak uang. Buat bayar listrik juga.
Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang berbelanja!”
Ibunya terperangah, seolah tak percaya akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu ibu di rumah. “ Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.
Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “ Pastilah Bu ...!”
“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata lembut.
“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.
Ibunya menggangguk, namun belum mengerti sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik ke Jakarta. (jk-230318)
Bandung, 23 Maret 2018