PMOH

PESAN-PESAN PENTING

1. Diharapkan semua peserta rajin mengecek "junk email" karena terkadang email dari milis masuk ke kolom tersebut tanpa kita kehendaki.

2. Sebelum menayangkan setiap tugas menulis di blog ini, mohon isi "label" di sebelah kanan dengan nama masing-masing peserta untuk memudahkan pembimbing mengidentifikasinya.

3. Semua tulisan yang telah dikirim dan ditayangkan tidak boleh dihapus, melainkan boleh diedit dan di bagian kanan judul tulisan dapat diberikan keterangan tambahan (misalnya: Edit 1, Edit 2, dst). Dengan begitu hasil review yang ditulis di kolom komentar oleh pembimbing tidak terhapus;

4. Para peserta bebas memberikan komentar yang saling membangun pada tulisan peserta lainnya.

***

Rabu, 18 April 2018

Modul 6 : Mengedit dan Merevisi Naskah

Modul 6 : HASIL EDIT DAN REVISI : 



Icha Ingin Ikut Piknik


Icha, anak semata wayang, berumur 9 tahun, berkulit sawo matang dan bermata bulat. Bersekolah di SD Negeri, kelas 3, Kota Cimahi. Ayah Icha di PHK beberapa tahun lalu, dan tak punya pekerjaan tetap. Meski sebagian uang  pesangon telah digunakan untuk modal buka warung sayur-mayur, kehidupannya belum beranjak dari kemiskinan.


Di ruang tamu, Icha sendirian. Tak seperti biasanya, Ayah Icha tak di rumah, karena sedang pergi mencari pekerjaan di luar kota. Icha duduk di kursi dekat pintu ke luar, lahap menyantap sarapan paginya, nasi dan tempe goreng. Matanya tak fokus menatap nasi. Ada rasa bosan, menu makan yang sama hampir tiap hari, nasi dan tempe. 


Tiba-tiba, matanya menatap selembar kertas yang terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil dan diamatinya. Ternyata Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara, tentang pencabutan aliran listrik karena telah menunggak dua bulan.

Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total.

Dahinya terlipat membentuk garis-garis lengkung. Pagi itu, Icha kecewa berat. Ibunya tak memberi uang jajan pula, saat Icha hendak berangkat ke sekolah.

Kata ibu, “Uangnya dipakai tadi pagi subuh, untuk keperluan belanja warungnya di pasar.”


Pagi itu, Icha dan Santi berangkat bersama ke sekolah, seperti hari-hari biasanya. Sepanjang perjalanan itu pula, Icha nampak tak begitu semangat becanda kepada Santi.

Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa temannya sering mengajak Icha jajan.

“Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata hatinya meratap, saat beranjak dari rumahnya hendak menjemput Santi.

”Apa yang harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”tanya Icha dalam hati.


Kekesalan hati Icha, masih mengendap dalam pikirannya, selama jam belajar hingga pelajaran berakhir. Terlebih lagi, sebelum pulang, Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa  akan ada piknik ke Taman Mini Indonesia Indah – Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan.

Icha membayangkan apa yang diceritakan Bu Guru. Alangkah senangnya piknik bersama teman-teman naik bis, lewat jalan tol yang selama ini belum pernah dilihatnya.

Direncanakan berangkat pagi, dari sekolahnya di kawasan Kota Cimahi sampai Taman Mini, sekitar empat  jam perjalanan. Sampai di sana, makan siang, kemudian berkeliling di beberapa anjungan rumah-rumah adat dari seluruh Indonesia, dan kembali ke Cimahi pada siang harinya sekitar jam tiga. Namun, keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?


Icha berjalan kaki pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari sekolah. Santi  berceloteh riang bersama Santi, yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah Icha. Namun, hati Icha terganggu masalah piknik. Tak banyak yang Icha ceritakan kepada Santi.

Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya, “ Kamu ikut, Icha?”

Jawab Icha tersendat, “Belum tahu! Coba nanti kutanyakan pada ibu.”

Bola mata Icha mengecil, ada guratan menekan di lipatan kelopak matanya. Celoteh mereka berdua terhenti, Santi sampai rumah terlebih dahulu.

Dari balik jendela warungnya, Ibu tersenyum menyambut datangnya Icha. Ada wajah lelah di wajah ibu, matanya sayu menahan susah.

“Ibu ... , Icha pulang!” Icha menyapa ibu dari depan warungnya. Dari pintu samping, Ibu mendekati Icha ya“ng sudah berada di ruang tamu.

Makanlah Icha, tempe tadi pagi sudah ibu goreng lagi,” kata ibu.
“Ganti baju dulu, cuci kaki dan tangan, baru makan ya,”kata Ibu menambahkan.

“Baik, Bu,“  jawab Icha sambil berlalu menuju kamar mandi. Setelah badannya bersih, Icha berganti baju dan langsung makan.

Icha masuk kamar, merebahkan badan setelah makan kenyang. Nikmatnya terasa, perut laparnya boleh jadi karena tak jajan di sekolah. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak masih bayi.

“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis bagian-bagian yang berdebu. Saat baru saja merapikan boneka, datang Santi berteriak-teriak mengajak bermain. Ada beberapa temannya yang sudah siap menunggu tak jauh dari rumah.

Gagal sementara, rencana Icha merapikan boneka-bonekanya. Santi mengajak bermain game di rumahnya. Ada dua set komputer yang bisa dimainkan bersama teman-temannya. Hingga siang jam setengah empat, akhirnya Icha baru kembali ke rumah.

Icha sesegera mungkin membereskan boneka-bonekanya. Kekecewaannya dilampiaskan dengan cara cepat-cepat menata dan merapikan boneka-boneka di atas lemari di kamarnya.

Beberapa saat kemudian, Icha terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang!

Icha tampak bersemangat, kantuknya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan, seperti boneka-bonekanya.

“Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!” gumamnya.

“Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya.

Icha keluar kamar tidurnya, sesegera mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan banyak uang. Buat bayar listrik juga.

Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang berbelanja!”

Ibunya terperangah, seolah tak percaya akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu ibu di rumah.

“Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.

Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “ Pastilah Bu ...!”

“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata lembut.

“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.

Ibunya menggangguk, namun belum mengerti sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik ke Jakarta.

Pengalaman tahu kesulitan bayar listrik, warung sepi pembeli dan senyum tulus seorang ibu telah merubah perilaku Icha untuk membantu orangtua-nya. 

     Hatinya berbunga-bunga, saat Icha membantu bersih-bersih dan merapikan warung.  Harapannya bila warungnya banyak pembeli, pastilah Ibu memiliki cukup uang untuk membayar biaya piknik Icha ke Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta. 

Cimahi, 18 April 2018


SEBELUM REVISI


Icha Ingin Ikut Piknik ke Jakarta
Oleh : Johanes Krisnomo


Icha, anak semata wayang. Gadis manis 9 tahun ini, berkulit agak gelap dan bermata bulat. Bersekolah di SD Negeri, kelas 3, Kota Cimahi. Ayah Icha di PHK beberapa tahun lalu, dan tak punya pekerjaan tetap. Meski sebagian uang  pesangon telah digunakannya  untuk modal buka warung sayur-mayur dan beberapa keperluan sehari-hari, tapi kehidupannya belum beranjak dari kemiskinan.

Di ruang tamu, Icha lahap menyantap sarapan paginya, nasi dan tempe goreng. Icha menyuap nasi dengan sendok tanpa garpu. Matanya tak fokus menatap nasi. Ada rasa bosan, menu makan yang sama hampir tiap hari. Nasi dan tempe goreng.

Tiba-tiba, matanya menatap selembar kertas yang terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil, dan dibacanya. Ternyata Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara, perihal peringatan akan pencabutan aliran listrik karena telah menunggak dua bulan.

Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total.

Dahinya terlipat membentuk garis-garis lengkung. Pagi itu, Icha kecewa berat. Ibunya tak memberi uang jajan pula, saat Icha hendak berangkat ke sekolah. Kata ibu, “Uangnya dipakai tadi pagi subuh, untuk keperluan belanja warungnya di pasar.”

Pagi itu, Icha dan Santi berangkat bersama ke sekolah, seperti hari-hari biasanya. Sepanjang perjalanan itu pula, Icha nampak tak begitu semangat becanda kepada Santi.


Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa temannya sering mengajak Icha jajan. “Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata hatinya meratap, saat beranjak dari rumahnya hendak menjemput Santi. ”Apa yang harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”tanya Icha dalam hati.

Kekesalan hati Icha, masih mengendap dalam pikirannya, selama jam belajar hingga pelajaran berakhir. Terlebih lagi, sebelum pulang, Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa  akan ada piknik ke Taman Mini Indonesia Indah – Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan.

Icha membayangkan apa yang diceritakan Bu Guru. Alangkah senangnya piknik bersama teman-teman naik bis, lewat jalan tol yang selama ini belum pernah dilihatnya. Berangkat pagi, dari sekolahnya di kawasan Kota Cimahi sampai Taman Mini, sekitar empat  jam perjalanan. Sampai di sana, makan siang, kemudian berkeliling di beberapa anjungan rumah-rumah adat dari seluruh Indonesia, dan kembali ke Cimahi pada siang harinya sekitar jam tiga. Namun, keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?

Icha berjalan kaki pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari sekolah. Santi  berceloteh riang bersama Santi, yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah Icha. Namun, hati Icha terganggu masalah piknik. Tak banyak yang Icha ceritakan kepada Santi.

Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya, “ Kamu ikut, Icha?” Jawab Icha tersendat, “Belum tahu! Coba nanti kutanyakan pada ibu.” Bola mata Icha mengecil, ada guratan menekan di lipatan kelopak matanya. Celoteh mereka berdua terhenti, Santi sampai rumah terlebih dahulu.

Dari balik jendela warungnya, Ibu tersenyum menyambut datangnya Icha. Ada wajah lelah di wajah ibu, matanya sayu menahan susah.

“Ibu ... , Icha pulang!” Icha menyapa ibu dari depan warungnya. Dari pintu samping, Ibu mendekati Icha yang sudah berada di ruang tamu. “ Makanlah Icha, tempe tadi pagi sudah ibu goreng lagi,” kata ibu. “Ganti baju dulu, cuci kaki dan tangan, baru makan ya,”kata Ibu menabahkan. “Baik, Bu,“  jawab Icha sambil berlalu menuju kamar mandi. Setelah badannya bersih, Icha berganti baju dan langsung makan.

Icha masuk kamar, merebahkan badan setelah makan kenyang. Nikmatnya terasa, perut laparnya boleh jadi karena tak jajan di sekolah. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak masih bayi.

“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis bagian-bagian yang berdebu. Saat baru saja merapikan boneka, datang Santi berteriak-teriak mengajak bermain. Ada beberapa temannya yang sudah siap menunggu tak jauh dari rumah.

Gagal sementara, rencana Icha merapikan boneka-bonekanya. Santi mengajak bermain game di rumahnya. Ada dua set komputer yang bisa dimainkan bersama teman-temannya. Hingga siang jam setengah empat, akhirnya Icha baru kembali ke rumah.

Icha sesegera mungkin membereskan boneka-bonekanya. Kekecewaannya dilampiaskan dengan cara cepat-cepat menata dan merapikan boneka-boneka di atas lemari di kamarnya.

Beberapa saat kemudian, Icha terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang! Icha tampak bersemangat, kantuknya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan, seperti boneka-bonekanya. “Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!” gumamnya. “Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya.

Icha keluar kamar tidurnya, sesegera mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan banyak uang. Buat bayar listrik juga.

Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang berbelanja!”

Ibunya terperangah, seolah tak percaya akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu ibu di rumah. “ Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.

Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “ Pastilah Bu ...!”
“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata lembut.

“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.

Ibunya menggangguk, namun belum mengerti sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik ke Jakarta. Pengalaman tahu kesulitan bayar listrik, warung sepi pembeli dan senyum tulus seorang ibu telah merubah perilaku Icha untuk membantu orangtua-nya. (jk*)


Cimahi, 28 Maret 2018


Modul 5 : Setting, Tema, Deskripsi, Dialog, dan Judul

Tugas Modul - 5 JK180418

Deskripsi

1.

Tugas Deskripsi :
Sore itu, pasir-pasir laut berhamburan, digerus angin laut yang bertiup kencang. Agus, anak semata wayang Pak Sarim, tengah menanti bapaknya di tepi pantai Pangandaran - Ciamis, sepulang dari sekolah. Anak kelas 5 SD ini, terkadang ikut melaut bersama bapaknya hanya pada saat libur saja. Wajahnya sumringah ketika dari kejauhan samar-samar terlihat bapaknya bergerak ke darat, menarik tali panjang jaring penangkap ikan di tepi laut Pangandaran - Ciamis.


Deskripsi - Cerpen Icha :
Icha, anak semata wayang. Gadis manis 9 tahun ini, berkulit agak gelap dan bermata bulat. Bersekolah di SD Negeri, kelas 3, Kota Cimahi. Ayah Icha di PHK beberapa tahun lalu, dan tak punya pekerjaan tetap. Meski sebagian uang  pesangon telah digunakannya  untuk modal buka warung sayur-mayur dan beberapa keperluan sehari-hari, tapi kehidupannya belum beranjak dari kemiskinan.



2. 
Tugas Dialog :


Sepulang sekolah, tanpa berganti baju, Ita dan Mia langsung bermain stick. Mereka adalah teman satu sekolah, di SD Panggelar Budi - Kota Cimahi, kelas 3 SD. Siang itu, udara agak panas, dan angin bertiup perlahan.

“Kamu aja duluan!” seru Ita
“Kamu aja … aku lagi nyiapin stick buat main, “ jawab Mia.

Stick kayu tersebut sisa batang pegangan Es Krim yang dikumpulkan berhari-hari.

Ita melemparkan stick-nya, disusul kemudian oleh Mia. Meskipun dengan tenaga ekstra, stick keduanya tak bisa terlempar jauh. Kembali mendekati pelemparnya, terhadang oleh angin yang bertiup kencang.

“ Horee … aku paling jauh, “ kata Ita dengan bangga.
“ Ya udah, aku kalah. Nich tak bayar sama stick,” Mia menjawab.



Tugas Dialog - Cerpen Icha :

“Ibu ... , Icha pulang!” Icha menyapa ibu dari depan warungnya.

Dari pintu samping, Ibu mendekati Icha yang sudah berada di ruang tamu.

“Makanlah Icha, tempe tadi pagi sudah ibu goreng lagi,” kata ibu.
“Ganti baju dulu, cuci kaki dan tangan, baru makan ya,”kata Ibu menambahkan.

 “Baik, Bu,“  jawab Icha sambil berlalu menuju kamar mandi.

Setelah badannya bersih, Icha berganti baju dan langsung makan.



3. Judul

1. Icha Ingin Ikut Piknik ke Jakarta
2. Icha Ingin Ikut Piknik
3. Icha Ingin Piknik
4. Kuatir Tak Ikut Piknik
5. Sedihnya Bila Tak Ikut Piknik
6. Tak Punya Uang Buat Piknik
7. Maunya Ikut Piknik
8. Icha Ingin Piknik
9. Bahagianya  Bila Ikut Piknik
10. Rencana Piknik ke Taman Mini

Pilihan utk Cerpen : Sedihnya Bila Tak Ikut Piknik