Modul 6 : HASIL EDIT DAN REVISI :
Icha Ingin Ikut Piknik
Icha, anak semata wayang, berumur 9 tahun, berkulit sawo matang dan bermata bulat. Bersekolah di SD Negeri, kelas 3, Kota Cimahi. Ayah Icha di PHK beberapa tahun lalu, dan tak punya pekerjaan tetap. Meski sebagian uang pesangon telah digunakan untuk modal buka warung sayur-mayur, kehidupannya belum beranjak dari kemiskinan.
Di ruang tamu, Icha sendirian. Tak seperti biasanya, Ayah Icha tak di rumah, karena sedang pergi mencari pekerjaan di luar kota. Icha duduk di kursi dekat pintu ke luar, lahap menyantap sarapan paginya, nasi dan tempe goreng. Matanya tak fokus menatap nasi. Ada rasa bosan, menu makan yang sama hampir tiap hari, nasi dan tempe.
Tiba-tiba, matanya menatap selembar kertas yang terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil dan diamatinya. Ternyata Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara, tentang pencabutan aliran listrik karena telah menunggak dua bulan.
Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total.
Dahinya terlipat membentuk garis-garis lengkung. Pagi itu, Icha kecewa berat. Ibunya tak memberi uang jajan pula, saat Icha hendak berangkat ke sekolah.
Kata ibu, “Uangnya dipakai tadi pagi subuh, untuk keperluan belanja warungnya di pasar.”
Pagi itu, Icha dan Santi berangkat bersama ke sekolah, seperti hari-hari biasanya. Sepanjang perjalanan itu pula, Icha nampak tak begitu semangat becanda kepada Santi.
Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa temannya sering mengajak Icha jajan.
“Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata hatinya meratap, saat beranjak dari rumahnya hendak menjemput Santi.
”Apa yang harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”tanya Icha dalam hati.
Kekesalan hati Icha, masih mengendap dalam pikirannya, selama jam belajar hingga pelajaran berakhir. Terlebih lagi, sebelum pulang, Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa akan ada piknik ke Taman Mini Indonesia Indah – Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan.
Icha membayangkan apa yang diceritakan Bu Guru. Alangkah senangnya piknik bersama teman-teman naik bis, lewat jalan tol yang selama ini belum pernah dilihatnya.
Direncanakan berangkat pagi, dari sekolahnya di kawasan Kota Cimahi sampai Taman Mini, sekitar empat jam perjalanan. Sampai di sana, makan siang, kemudian berkeliling di beberapa anjungan rumah-rumah adat dari seluruh Indonesia, dan kembali ke Cimahi pada siang harinya sekitar jam tiga. Namun, keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?
Icha berjalan kaki pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari sekolah. Santi berceloteh riang bersama Santi, yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah Icha. Namun, hati Icha terganggu masalah piknik. Tak banyak yang Icha ceritakan kepada Santi.
Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya, “ Kamu ikut, Icha?”
Jawab Icha tersendat, “Belum tahu! Coba nanti kutanyakan pada ibu.”
Bola mata Icha mengecil, ada guratan menekan di lipatan kelopak matanya. Celoteh mereka berdua terhenti, Santi sampai rumah terlebih dahulu.
Dari balik jendela warungnya, Ibu tersenyum menyambut datangnya Icha. Ada wajah lelah di wajah ibu, matanya sayu menahan susah.
“Ibu ... , Icha pulang!” Icha menyapa ibu dari depan warungnya. Dari pintu samping, Ibu mendekati Icha ya“ng sudah berada di ruang tamu.
“Makanlah Icha, tempe tadi pagi sudah ibu goreng lagi,” kata ibu.
“Ganti baju dulu, cuci kaki dan tangan, baru makan ya,”kata Ibu menambahkan.
“Baik, Bu,“ jawab Icha sambil berlalu menuju kamar mandi. Setelah badannya bersih, Icha berganti baju dan langsung makan.
Icha masuk kamar, merebahkan badan setelah makan kenyang. Nikmatnya terasa, perut laparnya boleh jadi karena tak jajan di sekolah. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak masih bayi.
“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis bagian-bagian yang berdebu. Saat baru saja merapikan boneka, datang Santi berteriak-teriak mengajak bermain. Ada beberapa temannya yang sudah siap menunggu tak jauh dari rumah.
Gagal sementara, rencana Icha merapikan boneka-bonekanya. Santi mengajak bermain game di rumahnya. Ada dua set komputer yang bisa dimainkan bersama teman-temannya. Hingga siang jam setengah empat, akhirnya Icha baru kembali ke rumah.
Icha sesegera mungkin membereskan boneka-bonekanya. Kekecewaannya dilampiaskan dengan cara cepat-cepat menata dan merapikan boneka-boneka di atas lemari di kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Icha terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang!
Icha tampak bersemangat, kantuknya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan, seperti boneka-bonekanya.
“Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!” gumamnya.
“Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya.
Icha keluar kamar tidurnya, sesegera mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan banyak uang. Buat bayar listrik juga.
Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang berbelanja!”
Ibunya terperangah, seolah tak percaya akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu ibu di rumah.
“Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.
Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “ Pastilah Bu ...!”
“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata lembut.
“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.
Ibunya menggangguk, namun belum mengerti sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik ke Jakarta.
Pengalaman tahu kesulitan bayar listrik, warung sepi pembeli dan senyum tulus seorang ibu telah merubah perilaku Icha untuk membantu orangtua-nya.
Hatinya berbunga-bunga, saat Icha membantu bersih-bersih dan merapikan warung. Harapannya bila warungnya banyak pembeli, pastilah Ibu memiliki cukup uang untuk membayar biaya piknik Icha ke Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta.
Hatinya berbunga-bunga, saat Icha membantu bersih-bersih dan merapikan warung. Harapannya bila warungnya banyak pembeli, pastilah Ibu memiliki cukup uang untuk membayar biaya piknik Icha ke Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta.
Cimahi, 18 April 2018
SEBELUM REVISI
Icha Ingin Ikut Piknik ke Jakarta
Oleh : Johanes Krisnomo
Icha, anak semata wayang. Gadis manis 9 tahun ini, berkulit agak gelap dan bermata bulat. Bersekolah di SD Negeri, kelas 3, Kota Cimahi. Ayah Icha di PHK beberapa tahun lalu, dan tak punya pekerjaan tetap. Meski sebagian uang pesangon telah digunakannya untuk modal buka warung sayur-mayur dan beberapa keperluan sehari-hari, tapi kehidupannya belum beranjak dari kemiskinan.
Di ruang tamu, Icha lahap menyantap sarapan paginya, nasi dan tempe goreng. Icha menyuap nasi dengan sendok tanpa garpu. Matanya tak fokus menatap nasi. Ada rasa bosan, menu makan yang sama hampir tiap hari. Nasi dan tempe goreng.
Tiba-tiba, matanya menatap selembar kertas yang terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil, dan dibacanya. Ternyata Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara, perihal peringatan akan pencabutan aliran listrik karena telah menunggak dua bulan.
Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total.
Dahinya terlipat membentuk garis-garis lengkung. Pagi itu, Icha kecewa berat. Ibunya tak memberi uang jajan pula, saat Icha hendak berangkat ke sekolah. Kata ibu, “Uangnya dipakai tadi pagi subuh, untuk keperluan belanja warungnya di pasar.”
Pagi itu, Icha dan Santi berangkat bersama ke sekolah, seperti hari-hari biasanya. Sepanjang perjalanan itu pula, Icha nampak tak begitu semangat becanda kepada Santi.
Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa temannya sering mengajak Icha jajan. “Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata hatinya meratap, saat beranjak dari rumahnya hendak menjemput Santi. ”Apa yang harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”tanya Icha dalam hati.
Kekesalan hati Icha, masih mengendap dalam pikirannya, selama jam belajar hingga pelajaran berakhir. Terlebih lagi, sebelum pulang, Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa akan ada piknik ke Taman Mini Indonesia Indah – Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan.
Icha membayangkan apa yang diceritakan Bu Guru. Alangkah senangnya piknik bersama teman-teman naik bis, lewat jalan tol yang selama ini belum pernah dilihatnya. Berangkat pagi, dari sekolahnya di kawasan Kota Cimahi sampai Taman Mini, sekitar empat jam perjalanan. Sampai di sana, makan siang, kemudian berkeliling di beberapa anjungan rumah-rumah adat dari seluruh Indonesia, dan kembali ke Cimahi pada siang harinya sekitar jam tiga. Namun, keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?
Icha berjalan kaki pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari sekolah. Santi berceloteh riang bersama Santi, yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah Icha. Namun, hati Icha terganggu masalah piknik. Tak banyak yang Icha ceritakan kepada Santi.
Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya, “ Kamu ikut, Icha?” Jawab Icha tersendat, “Belum tahu! Coba nanti kutanyakan pada ibu.” Bola mata Icha mengecil, ada guratan menekan di lipatan kelopak matanya. Celoteh mereka berdua terhenti, Santi sampai rumah terlebih dahulu.
Dari balik jendela warungnya, Ibu tersenyum menyambut datangnya Icha. Ada wajah lelah di wajah ibu, matanya sayu menahan susah.
“Ibu ... , Icha pulang!” Icha menyapa ibu dari depan warungnya. Dari pintu samping, Ibu mendekati Icha yang sudah berada di ruang tamu. “ Makanlah Icha, tempe tadi pagi sudah ibu goreng lagi,” kata ibu. “Ganti baju dulu, cuci kaki dan tangan, baru makan ya,”kata Ibu menabahkan. “Baik, Bu,“ jawab Icha sambil berlalu menuju kamar mandi. Setelah badannya bersih, Icha berganti baju dan langsung makan.
Icha masuk kamar, merebahkan badan setelah makan kenyang. Nikmatnya terasa, perut laparnya boleh jadi karena tak jajan di sekolah. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak masih bayi.
“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis bagian-bagian yang berdebu. Saat baru saja merapikan boneka, datang Santi berteriak-teriak mengajak bermain. Ada beberapa temannya yang sudah siap menunggu tak jauh dari rumah.
Gagal sementara, rencana Icha merapikan boneka-bonekanya. Santi mengajak bermain game di rumahnya. Ada dua set komputer yang bisa dimainkan bersama teman-temannya. Hingga siang jam setengah empat, akhirnya Icha baru kembali ke rumah.
Icha sesegera mungkin membereskan boneka-bonekanya. Kekecewaannya dilampiaskan dengan cara cepat-cepat menata dan merapikan boneka-boneka di atas lemari di kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Icha terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang! Icha tampak bersemangat, kantuknya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan, seperti boneka-bonekanya. “Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!” gumamnya. “Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya.
Icha keluar kamar tidurnya, sesegera mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan banyak uang. Buat bayar listrik juga.
Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang berbelanja!”
Ibunya terperangah, seolah tak percaya akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu ibu di rumah. “ Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.
Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “ Pastilah Bu ...!”
“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata lembut.
“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.
Ibunya menggangguk, namun belum mengerti sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik ke Jakarta. Pengalaman tahu kesulitan bayar listrik, warung sepi pembeli dan senyum tulus seorang ibu telah merubah perilaku Icha untuk membantu orangtua-nya. (jk*)
Cimahi, 28 Maret 2018