PMOH

PESAN-PESAN PENTING

1. Diharapkan semua peserta rajin mengecek "junk email" karena terkadang email dari milis masuk ke kolom tersebut tanpa kita kehendaki.

2. Sebelum menayangkan setiap tugas menulis di blog ini, mohon isi "label" di sebelah kanan dengan nama masing-masing peserta untuk memudahkan pembimbing mengidentifikasinya.

3. Semua tulisan yang telah dikirim dan ditayangkan tidak boleh dihapus, melainkan boleh diedit dan di bagian kanan judul tulisan dapat diberikan keterangan tambahan (misalnya: Edit 1, Edit 2, dst). Dengan begitu hasil review yang ditulis di kolom komentar oleh pembimbing tidak terhapus;

4. Para peserta bebas memberikan komentar yang saling membangun pada tulisan peserta lainnya.

***

Jumat, 23 Maret 2018

Modul 3 Tugas 1&2 Icha Ingin Ikut Piknik ke Jakarta

Modul - 3 Tugas 1&2



Johanes Krisnomo
Target Pembaca : 10 -12 Tahun
Jenis                      : Cerpen
Pelajaran              : Kesadaran seorang anak, untuk membantu Ibu, setelah belajar dari pengalaman dan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Icha Ingin Ikut Piknik ke Jakarta
Oleh : Johanes Krisnomo

Dahinya terlipat membentuk garis-garis lengkung. Icha kecewa berat, saat ibunya tak memberi uang jajan, pagi itu. Icha, gadis kurus berumur 9 tahun, kelas 3 SD. Anak semata wayang.

Kulitnya kehitaman, bermata bulat dan pendiam. Sejak ayahnya di PHK, beberapa tahun lalu dan tak bekerja lagi, Ibu Icha berjualan pisang goreng dan keperluan sehari-hari seperti sabun, odol, kopi dan lain-lain di rumahnya yang mungil.

Saat istirahat sekolah, biasanya Icha jajan di kantin sekolah yang terletak kurang lebih 20 meter di belakang ruang kelas-nya. Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa temannya sering mengajak Icha jajan. “Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata hatinya meratap,” apa yang harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”

Kekesalan hati Icha, masih mengendap dalam pikirannya, hingga pelajaran berakhir. Sedikit terhibur saat Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa akan ada piknik ke Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan. Namun, keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?

Tak jauh Icha harus berjalan kaki pulang ke rumahnya. Celoteh riang bersama Santi, teman sekelas yang cuma berjarak tiga rumah, sebelum Icha.

“Kalau jadi piknik ke Jakarta, alangkah senangnya!” kata Icha.
Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya, “ Kamu ikut Icha?”
“Belum tahu! Coba nanti kutanyakan pada ibu,” jawab Icha tersendat, bola matanya mengecil, ada guratan menekan lipatan di matanya. Ada perasaan galau, seolah tak yakin rencananya akan terwujud.
“Sampai jumpa, besok pagi,” Santi sampai rumahnya terlebih dahulu.
Seorang diri, melanjutkan perjalanan, Icha menatap hampa, tak tahu harus berbuat apa.

Hilang lenyap semua masalah yang dipikirkan Icha, saat masuk pintu rumah. Bau harum tempe goreng kesukaannya, memenuhi rongga hidungnya. “Nikmatnya, tempe goreng,” Icha bicara perlahan, buat dirinya sendiri. “Biasanya, ada sayur asam,” katanya lagi, sambil beranjak ke dapur, menjumpai Ibu-nya setelah menaruh tas sekolah di ruang tamu.

“Ibu, aku pulang!” seru Icha, tanpa menatap wajah Ibu yang sedang sibuk menggoreng tempe.
“ Ayo, Icha segera ganti baju dan makan,” kata Ibunya. “Baik, Bu, “ jawab Icha sambil menyiapkan piring dan akan mengambil nasi di panci.

Di Ruang Tamu, Icha lahap menyantap Nasi dan Tempe Goreng serta Sayur Asem. Kecap-kecap lidahnya, agak terdengar karena lapar.
Samar-samar terlihat selembar kertas terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil, dan dibacanya, Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara, perihal pencabutan aliran. Menunggak dua bulan. Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total. Apa yang Icha bisa lakukan?

Icha masuk kamar, merebahkan badan setelah berganti pakaian sekolahnya. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak masih bayi.

“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis bagian-bagian yang berdebu.

Beberapa saat kemudian, Icha terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang! Icha tampak bersemangat, kantuknya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan, seperti boneka-bonekanya. “Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!” gumamnya. “Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya. Tak jadi tidur!

Icha keluar kamar tidurnya, sesegera mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan banyak uang. Buat bayar listrik juga.

Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang berbelanja!”

Ibunya terperangah, seolah tak percaya akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu ibu di rumah. “ Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.

Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “ Pastilah Bu ...!”
“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata lembut.
“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.

Ibunya menggangguk, namun belum mengerti sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik ke Jakarta. (jk-230318)
Bandung, 23 Maret 2018


 
Icha Ingin Ikut Piknik ke Jakarta

Oleh : Johanes Krisnomo
1.
PEMBUKA.
Dahinya terlipat membentuk garis-garis lengkung. Icha kecewa berat, saat ibunya tak memberi uang jajan, pagi itu. Icha, gadis kurus berumur 9 tahun, kelas 3 SD. Anak semata wayang.
Kulitnya kehitaman, bermata bulat dan pendiam. Sejak ayahnya di PHK, beberapa tahun lalu dan tak bekerja lagi, Ibu Icha berjualan pisang goreng dan keperluan sehari-hari seperti sabun, odol, kopi dan lain-lain di rumahnya yang mungil.
Saat istirahat sekolah, biasanya Icha jajan di kantin sekolah yang terletak kurang lebih 20 meter di belakang ruang kelas-nya. Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa temannya sering mengajak Icha jajan. “Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata hatinya meratap,” apa yang harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”
Kekesalan hati Icha, masih mengendap dalam pikirannya, hingga pelajaran berakhir. Sedikit terhibur saat Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa akan ada piknik ke Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan. Namun, keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?

2.
MASALAH YANG MENGARAH KE AKSI/TINDAKAN
Tak jauh Icha harus berjalan kaki pulang ke rumahnya. Celoteh riang bersama Santi, teman sekelas yang cuma berjarak tiga rumah, sebelum Icha.
“Kalau jadi piknik ke Jakarta, alangkah senangnya!” kata Icha.
Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya, “ Kamu ikut Icha?”
“Belum tahu! Coba nanti kutanyakan pada ibu,” jawab Icha tersendat, bola matanya mengecil, ada guratan menekan lipatan di matanya. Ada perasaan galau, seolah tak yakin rencananya akan terwujud.
“Sampai jumpa, besok pagi,” Santi sampai rumahnya terlebih dahulu.
Seorang diri, melanjutkan perjalanan, Icha menatap hampa, tak tahu harus berbuat apa.

3.
KONFLIK/SUSPEN YANG MENINGKAT
Hilang lenyap semua masalah yang dipikirkan Icha, saat masuk pintu rumah. Bau harum tempe goreng kesukaannya, memenuhi rongga hidungnya. “Nikmatnya, tempe goreng,” Icha bicara perlahan, buat dirinya sendiri. “Biasanya, ada sayur asam,” katanya lagi, sambil beranjak ke dapur, menjumpai Ibu-nya setelah menaruh tas sekolah di ruang tamu.
“Ibu, aku pulang!” seru Icha, tanpa menatap wajah Ibu yang sedang sibuk menggoreng tempe.
“ Ayo, Icha segera ganti baju dan makan,” kata Ibunya. “Baik, Bu, “ jawab Icha sambil menyiapkan piring dan akan mengambil nasi di panci.
Di Ruang Tamu, Icha lahap menyantap Nasi dan Tempe Goreng serta Sayur Asem. Kecap-kecap lidahnya, agak terdengar karena lapar.
Samar-samar terlihat selembar kertas terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil, dan dibacanya, Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara, perihal pencabutan aliran. Menunggak dua bulan. Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total. Apa yang Icha bisa lakukan?

4.

KLIMAKS


Icha masuk kamar, merebahkan badan setelah berganti pakaian sekolahnya. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak masih bayi.
“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis bagian-bagian yang berdebu.
Beberapa saat kemudian, Icha terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang! Icha tampak bersemangat, kantuknya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan, seperti boneka-bonekanya. “Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!” gumamnya. “Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya. Tak jadi tidur!

5.
RESOLUSI/PENYELESAIAN
Icha keluar kamar tidurnya, sesegera mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan banyak uang. Buat bayar listrik juga.
Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang berbelanja!”
Ibunya terperangah, seolah tak percaya akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu ibu di rumah. “ Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.
Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “ Pastilah Bu ...!”
“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata lembut.
“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.
Ibunya menggangguk, namun belum mengerti sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik ke Jakarta. (jk-230318)
Bandung, 23 Maret 2018

9 komentar:

  1. Selamat Malam Mabk Yunita / Mbak Fida,
    Sessuai janji saya, Cerpen Anak sudah saya buat. Artinya Modul 3 sdh saya kerjakan lengkap termasuk tugas 1 dan 2.
    Saya buat dua versi, yaitu tanpa No 1 s/d 5 dan dg nomor.
    Keduanya sama, tergantung bagaimana keperluannya.
    Jalan Cerita, kemungkinan betgeser dari rencana saat Modul 2. Dikarenakan sesuai situasi jalan cerita yg cocok.
    Mohon bimbingan dan koreksinya.
    Mohon maaf juga bila terlambat, krn saya kemarin kurang sehat, pusing dan flu setelah plg kerja kehujanan, dan banjir di mana-mana.
    Sekian dan terimakasih,
    Johanes Krisnomo
    Bandung, 23 Maret 2018

    BalasHapus
  2. Pak Johanes, semoga Bapak sudah pulih dan sehat kembali setelah istirahat dua hari ini. Terima kasih atas tugas modul ke-3 yang sudah disampaikan. Saya melihat kesungguhan Pak Johanes mencoba membuat cerita Icha dengan mengikut kerangka dasar/struktur cerita. Saya menikmati garis besar cerita Icha dan saya yakin Pak Johanes akan bisa membuat cerita Icha menjadi cerita yang baik dan memenuhi kriteria.


    Sebelum masuk ke pembahasan tugas, saya ingin memberikan satu masukan penting dalam menulis kalimat. Sejak awal saya memperhatikan tulisan-tulisan Pak Johanes, seringkali Bapak membuat kalimat tanpa subjek dan susunan S-P-O (subjek – predikat – objek) yang kurang tepat sehingga artinya tidak jelas. Kata keterangannya Bapak letakkan di depan, setelah itu baru subjeknya. Misalnya dua kalimat ini yang saya kutip dari bagian “Masalah yang mengarah ke aksi/tindakan” (kalimat pertama).

    1) Tak jauh Icha harus berjalan kaki pulang ke rumahnya.
    2) Celoteh riang bersama Santi, teman sekelas yang cuma berjarak tiga rumah, sebelum Icha.

    Yang benar adalah:
    1) Icha berjalan kaki pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari sekolah.”
    2) Icha berceloteh riang bersama Santi, yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah Icha.

    Mohon perhatikan perbedaan kalimat yang Pak Johanes buat dengan kalimat yang saya buat. Isi dan maksudnya sama, namun struktur kalimatnya berbeda. Sebagai penulis, sebaiknya kita menuliskan kalimat dengan struktur yang benar sehingga kalimat kita dapat dimengerti maksudnya oleh pembaca.

    Keunggulan lain dengan membuat kalimat dengan struktur menempatkan tokoh/subjek di awal kalimat, kalimat itu akan terasa aktif dan lebih hidup.

    Misalnya dalam kalimat di bawah ini:

    “Seorang diri, melanjutkan perjalanan, Icha menatap hampa, tidak tahu harus berbuat apa.”

    Bisa ditulis ulang seperti ini:
    “Icha melanjutkan perjalanannya dengan pandangan hampa, tidak tahu harus berbuat apa.”


    Saya akan sambung komentar saya dalam pesan berikut ini.

    BalasHapus
  3. Berikut ini saya hendak memberikan komentar dan masukan untuk pengembangan naskah Bapak tersebut. Semoga Pak Johanes dapat memahaminya

    Bagian pembuka:

    Pak Johanes memperkenalkan Icha (tokoh utama) dengan memberikan informasi postur tubuhnya, usianya, sifatnya, statusnya dalam keluarga, orangtuanya, berikut keadaan ekonomi keluarganya. Pak Johanes juga memperkenalkan nama Santi, teman Icha.

    Menurut saya bagian pembuka itu sarat dengan informasi tentang Icha, keluarganya, dan sekolahnya. Yang menjadi tantangan buat Pak Johanes adalah bagaimana menulis ulang kalimat-kalimat bagian itu agar informasi tersebut tidak terasa seperti laporan. Saat membaca bagian itu, saya seperti membaca suatu laporan.

    Saya bertanya-tanya, mengapa pagi itu Icha tidak diberi uang jajan? Karena masalah keuangan keluarga adalah satu masalah penting dalam cerita ini, maka Pak Johanes bisa membuat percakapan antara Icha dan ibunya tentang uang jajan di bagian pembuka. Misalnya Icha protes mengapa tidak diberi uang jajan, dan ibunya memberikan alasan. Mungkin sang ibu tidak langsung mengatakan bahwa keuangan mereka menipis, tapi Ibu memberikan alasan yang lain. Bagaimana sebenarnya hubungan antara ibu dan Icha akan mempengaruhi cara mereka berkomunikasi.

    Di dalam pembuka ini, saya melihat ada dua hal yang mengusik hati Icha yaitu: 1) tidak diberi uang jajan sehingga ia tidak bisa jajan hari itu. 2) sekolahnya akan piknik ke Jakarta selepas penerimaan rapot.

    Bagian masalah yang mengarah ke aksi/tindakan:

    Dari kalimat penutup bagian itu sebagai pembaca kita mulai melihat ada masalah yang akan dihadapi Icha, yaitu apakah mendapat izin dari ibunya untuk ikut piknik ke Jakarta. Ia merasa ada masalah di keluarganya sehingga ia tidak diberi uang jajan. Kalau uang jajan saja tidak dikasih, apakah mungkin ia akan diizinkan ikut piknik ke Jakarta? Itu yang menjadi pertanyaan dalam benak Icha, dan yang akan menjadi masalah dia.

    BalasHapus
  4. Bagian konflik/suspen yang meningkat:

    Dalam bagian ini Icha tidak sengaja melihat surat pemberitahuan dari PLN perihal pencabutan aliran listrik di rumahnya. Rupanya orangtua Icha sudah menunggak pembayaran listrik selama dua bulan. Sekarang masalah yang dihadapi Icha ada dua yaitu: 1) bagaimana agar dia bisa ikut piknik ke Jakarta dan 2) ternyata orangtuanya mengalami masalah keuangan yang sangat memprihatinkan.

    Menurut saya lebih baik bagian cerita ketika Icha menemukan surat dari PLN, dipindahkan ke bagian masalah yang mengarah ke aksi/tindakan. Dengan mengetahui bahwa orangtuanya punya masalah keuangan, maka Icha tergerak untuk melakukan sesuatu untuk menolong orangtuanya, termasuk menolong dirinya sendiri agar dapat pergi piknik ke Jakarta.

    Jadi pada bagian konflik/suspen yang meningkat, Pak Johanes dapat menguraikan upaya-upaya yang dilakukan oleh Icha untuk menolong orangtuanya. Yang dimaksud dengan adanya konflik dan suspen adalah ketika Icha mengalami tantangan/hambatan dalam upayanya. Misalnya ketika Icha berupaya merapikan boneka dan mainannya, ada temannya memanggil keluar untuk bermain. Pada momen itu Icha jadi tergoda untuk meninggalkan pekerjaannya untuk pergi bermain atau dia mengatakan kepada temannya bahwa dia ada pekerjaan di rumah dan tidak bisa bermain pada hari itu.
    Itu yang dinamakan konflik—momen di mana tokoh utama diganggu atau digoda untuk meninggalkan pekerjaanya atau usahanya untuk mewujudkan harapannya. Dalam cerita kita, bisa dibuatkan beberapa kali konflik yang sifatnya memuncak menjadi klimaks.

    Misalnya, konflik pertama adalah teman Icha memanggil Icha untuk bermain, bukannya membereskan boneka dan mainnya. Konflik kedua adalah setelah membereskan boneka-bonekanya, Icha merasa capek dan tergoda untuk istirahat, padahal keinginan hatinya adalah membantu membersihkan warung Ibu. Dalam hal ini sebagai tokoh utama Icha harus memenangkan pergumulannya yaitu mengalahkan rasa capeknya dan melakukan rencananya yaitu membersihkan warung Ibu.

    Bagian Resolusi/Penyelesaian:

    Dalam bagian ini yang Pak Johanes buat, sebetulnya kita belum melihat ada penyelesaian dari masalah yang dihadapi Icha. Pertama, karena kita belum jelas apa sebenarnya masalah yang dihadapi Icha. Apakah soal uang jajan atau mau pergi piknik ke Jakarta?
    Kedua, apa sebenarnya motivasi Icha untuk berubah, dari seorang anak yang tidak pernah membantu ibunya menjadi anak yang mau membersihkan warung ibunya. Apakah karena dia mengasihi orangtuanya yang mengalami masalah keuangan atau karena dia ingin pergi piknik ke Jakarta?

    Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah:

    1. Kalimat awal suatu paragraf dan kalimat percakapan harap selalu dibuat menjorok ke dalam, kecuali kalau kalimat percakapan itu bagian dari alinea tersebut.
    2. Pada bagian “konflik/suspen”, Ibu menyuruh Icha untuk segera ganti baju dan makan. Icha menjawab, “Baik, Bu.” Namun ternyata Icha tidak melakukannya. Ia langsung menyiapkan piring dan mengambil nasi di panci. Setelah makan baru dia ganti baju. Apa yang dilakukannya itu menunjukkan sifat Icha yang tidak menurut perintah ibunya.
    3. Penulisan kata Nasi, Tempe Goreng, Sayur Asem, tidak perlu dimulai dengan huruf capital, kecuali kalau kata itu sebagai kata awal di satu kalimat.
    4. Kira-kira di manakah lokasi atau seting tempat tinggal Icha?

    Demikian komentar dan masukan saya terhadap naskah Icha. Semoga bermanfaat dalam mengembangkan cerita Icha dan Pak Johanes dapat merevisinya, khususnya dalam memenuhi struktur satu cerita. Minggu depan kita akan berlatih lebih spesifik lagi terhadap cerita tersebut.

    Atas perhatian Pak Johanes saya haturkan terima kasih. Tetap semangat.

    Salam,
    Yunita

    BalasHapus
  5. Selamat Siang Mbak Yunita,
    Saya merasa sangat senang, koreksi cerpennya sangat detail dan mendalam.
    Rupanya banyak sekali ya, kekurangannya.
    Akan saya coba, segera merevisinya sesuai dengan arahan.
    Saya juga sebelumnya, berfikir mencari motivasi mengapa Icha tergerak untuk membnatu ibunya.
    Alasan saya, setelah tergeletak di tempat tidur, Icha menyadari kamar dan koleksi dan bonekanya berantakan. Timbul keinginan untuk merapikan dan membersihkannya. Setelah terlihat hasilnya baru ada ide membantu warungnya.
    Icha berpikir kalau warung rapi dan bersih pasti orang akan senang beli di warung seperti rasa senang yg dia lihat di kamarnya setelah beres.
    Tapi dlm pikiran saya,itu cara berpikir anak kelas 3 SD.
    Mungkin saya harus cari motivasi lainnya yg lebih kuat.
    Tentang lokasi, apakah harus dicantumkan misal Kota Cimahi
    atau hanya secara umum Kawasan Di tepinya perumahan. Tanpa sebut nama perumahan dan Kotanya.
    Saya akan coba bongkar, hari ini, Minggu malam, sesuai dengan arahan Mbak Yunita.
    Sekali lagi, terimakasih atas koreksi Mbak Yunita yg sangat membantu saya dlm berproses mewujudkan sbg penulis cerita anak.
    Dan juga terimakasih atas waktu nya yng pasti mengambil saat istirahat Mbak.
    Salam Bahagia,
    Johanes Krisnomo
    Bandung, Minggu, 25 Maret 2018


    BalasHapus
  6. Pak Johanes yang baik,
    Terima kasih atas responnya. Iya, betul sekali seperti yang Bapak tulis. Kalau kita sudah tahu persis apa masalah yang dihadapi Icha maka kita akan lebih mudah mengetahui penyelesaian masalah itu. Demikian juga halnya dengan motivasi dia tergerak untuk membantu ibu. Mungkin menurut Pak Johanes akan lebih baik kalau motivasi Icha adalah tulus membantu orangtuanya. Ia tidak akan keberatan kalau tidak bisa ke Jakarta dikarenakan masalah keuangan keluarga. Mungkin karena ia melihat teladan kesabaran orangtuanya, Icha belajar ikhlas kalau tidak bisa ke Jakarta.
    Tentang lokasi di Cimahi, tidak harus dicantumkan sih Pak. Saya hanya ingin membayangkan berapa jauh tempat tinggal Icha ke Jakarta.
    Ini sekadar masukan saja untuk Pak Johanes pertimbangkan. Bagaimana lazimnya anak-anak SD masa kini dalam mengisi liburan mereka sehabis kenaikan kelas. Kalau Icha berada di Cimahi, berencana piknik ke Jakarta, apakah satu hari atau menginap? Kalau satu hari persisnya ke mana? Apakah ke Taman Mini Indonesia Indah? Atau ke daerah Monas dan Museum Gajah yang lokasinya berdekatan? Apa yang membuat Icha begitu ingin ikut piknik ke Jakarta? Hasrat dan keinginannya yang besar itu bisa menjadi pemicu kesungguhan dia untuk mendapatkan uang saku yang akan ditabung untuk piknik, sehingga dia mencoba membantu orang tuanya.

    Semoga masukan-masukan ini bermanfaat. Selamat berkarya, Pak Johanes. Tetap semangat! :-)

    Salam,
    Yunita

    BalasHapus
  7. Selamat Pagi, Mbak Yunita.
    Saya sangat senang mendapatkan masukkan yg sangat bermanfaat buat kelanjutan cerpen ini.
    Tugas Modul pun sdh saya terima dan pelajari pagi ini.
    Tadi malam saya check blm ada.
    Apakah sebaiknya saya tetap melanjutkan koreksi atau saran perbaikan yg dari Modul 3 ini?
    Ataukah saya tinggal melanjutkan saja ya.
    Saya berharap akan perbaiki Modul-3 ini agar jelas dan benar sesuai dg koreksi atau saran dari Mbak Yunita.
    Sementara itu saja, saya siap2 berangkat kerja. Senin Pagi, 26 Mar 2018.
    Salam Sehat dan Bahagia,
    Terimakasih,
    Johanes Krisnomo

    BalasHapus
  8. Selamat pagi Pak Johanes, terima kasih atas responnya.
    Menurut saya sebaiknya Bapak mencoba melanjutkan koreksi dari Modul ke-3, namun Bapak sekaligus mengerjakan tugas Modul ke-4 berdasarkan cerita Icha yang sedang Bapak kerjakan. Misalnya untuk tugas membuat tokoh-tokoh, Pak Johanes menentukan dulu berapa tokoh yang akan berperan dalam tokoh Icha. Buatkan deksripsi mengenai mereka dan tujuan mereka dalam cerita tersebut. Jadi cerita Icha mudah-mudahan akan semakin matang. Jika ada pertanyaan lain atau komentar, silakan Bapak sampaikan nanti akan saya jawab.
    Terima kasih dan selamat bekerja Pak.

    Salam,
    Yunita

    BalasHapus
  9. Mbak Yunita,
    Saya kirim Modul 4, ternyata itu termasuk koreksi dari Modul-3 ya?
    Kalau begitu saya salah mengerti, krn ternyata saya harus membuat
    1. Tokoh2 yg terlibat
    2. Deskripsi dari tokoh2 tsb
    3. Tujuan para tokoh dalam cerita tsb.
    Kalau begitu akan saya susulkan, hari Sabtu.
    Karena Modul 4 yg saya kirim Rabu,blm ada komentar, maka setelah saya baca ulang Modul-4 ternyata belum.
    Terimakasih dan Selamat Malam.
    Salam Sehat Bahagia,
    Johanes Krisnomo

    BalasHapus