Modul 6 : HASIL EDIT DAN REVISI :
Icha Ingin Ikut Piknik
Icha, anak semata wayang, berumur 9 tahun, berkulit sawo matang dan bermata bulat. Bersekolah di SD Negeri, kelas 3, Kota Cimahi. Ayah Icha di PHK beberapa tahun lalu, dan tak punya pekerjaan tetap. Meski sebagian uang pesangon telah digunakan untuk modal buka warung sayur-mayur, kehidupannya belum beranjak dari kemiskinan.
Di ruang tamu, Icha sendirian. Tak seperti biasanya, Ayah Icha tak di rumah, karena sedang pergi mencari pekerjaan di luar kota. Icha duduk di kursi dekat pintu ke luar, lahap menyantap sarapan paginya, nasi dan tempe goreng. Matanya tak fokus menatap nasi. Ada rasa bosan, menu makan yang sama hampir tiap hari, nasi dan tempe.
Tiba-tiba, matanya menatap selembar kertas yang terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil dan diamatinya. Ternyata Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara, tentang pencabutan aliran listrik karena telah menunggak dua bulan.
Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total.
Dahinya terlipat membentuk garis-garis lengkung. Pagi itu, Icha kecewa berat. Ibunya tak memberi uang jajan pula, saat Icha hendak berangkat ke sekolah.
Kata ibu, “Uangnya dipakai tadi pagi subuh, untuk keperluan belanja warungnya di pasar.”
Pagi itu, Icha dan Santi berangkat bersama ke sekolah, seperti hari-hari biasanya. Sepanjang perjalanan itu pula, Icha nampak tak begitu semangat becanda kepada Santi.
Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa temannya sering mengajak Icha jajan.
“Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata hatinya meratap, saat beranjak dari rumahnya hendak menjemput Santi.
”Apa yang harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”tanya Icha dalam hati.
Kekesalan hati Icha, masih mengendap dalam pikirannya, selama jam belajar hingga pelajaran berakhir. Terlebih lagi, sebelum pulang, Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa akan ada piknik ke Taman Mini Indonesia Indah – Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan.
Icha membayangkan apa yang diceritakan Bu Guru. Alangkah senangnya piknik bersama teman-teman naik bis, lewat jalan tol yang selama ini belum pernah dilihatnya.
Direncanakan berangkat pagi, dari sekolahnya di kawasan Kota Cimahi sampai Taman Mini, sekitar empat jam perjalanan. Sampai di sana, makan siang, kemudian berkeliling di beberapa anjungan rumah-rumah adat dari seluruh Indonesia, dan kembali ke Cimahi pada siang harinya sekitar jam tiga. Namun, keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?
Icha berjalan kaki pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari sekolah. Santi berceloteh riang bersama Santi, yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah Icha. Namun, hati Icha terganggu masalah piknik. Tak banyak yang Icha ceritakan kepada Santi.
Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya, “ Kamu ikut, Icha?”
Jawab Icha tersendat, “Belum tahu! Coba nanti kutanyakan pada ibu.”
Bola mata Icha mengecil, ada guratan menekan di lipatan kelopak matanya. Celoteh mereka berdua terhenti, Santi sampai rumah terlebih dahulu.
Dari balik jendela warungnya, Ibu tersenyum menyambut datangnya Icha. Ada wajah lelah di wajah ibu, matanya sayu menahan susah.
“Ibu ... , Icha pulang!” Icha menyapa ibu dari depan warungnya. Dari pintu samping, Ibu mendekati Icha ya“ng sudah berada di ruang tamu.
“Makanlah Icha, tempe tadi pagi sudah ibu goreng lagi,” kata ibu.
“Ganti baju dulu, cuci kaki dan tangan, baru makan ya,”kata Ibu menambahkan.
“Baik, Bu,“ jawab Icha sambil berlalu menuju kamar mandi. Setelah badannya bersih, Icha berganti baju dan langsung makan.
Icha masuk kamar, merebahkan badan setelah makan kenyang. Nikmatnya terasa, perut laparnya boleh jadi karena tak jajan di sekolah. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak masih bayi.
“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis bagian-bagian yang berdebu. Saat baru saja merapikan boneka, datang Santi berteriak-teriak mengajak bermain. Ada beberapa temannya yang sudah siap menunggu tak jauh dari rumah.
Gagal sementara, rencana Icha merapikan boneka-bonekanya. Santi mengajak bermain game di rumahnya. Ada dua set komputer yang bisa dimainkan bersama teman-temannya. Hingga siang jam setengah empat, akhirnya Icha baru kembali ke rumah.
Icha sesegera mungkin membereskan boneka-bonekanya. Kekecewaannya dilampiaskan dengan cara cepat-cepat menata dan merapikan boneka-boneka di atas lemari di kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Icha terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang!
Icha tampak bersemangat, kantuknya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan, seperti boneka-bonekanya.
“Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!” gumamnya.
“Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya.
Icha keluar kamar tidurnya, sesegera mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan banyak uang. Buat bayar listrik juga.
Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang berbelanja!”
Ibunya terperangah, seolah tak percaya akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu ibu di rumah.
“Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.
Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “ Pastilah Bu ...!”
“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata lembut.
“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.
Ibunya menggangguk, namun belum mengerti sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik ke Jakarta.
Pengalaman tahu kesulitan bayar listrik, warung sepi pembeli dan senyum tulus seorang ibu telah merubah perilaku Icha untuk membantu orangtua-nya.
Hatinya berbunga-bunga, saat Icha membantu bersih-bersih dan merapikan warung. Harapannya bila warungnya banyak pembeli, pastilah Ibu memiliki cukup uang untuk membayar biaya piknik Icha ke Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta.
Hatinya berbunga-bunga, saat Icha membantu bersih-bersih dan merapikan warung. Harapannya bila warungnya banyak pembeli, pastilah Ibu memiliki cukup uang untuk membayar biaya piknik Icha ke Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta.
Cimahi, 18 April 2018
SEBELUM REVISI
Icha Ingin Ikut Piknik ke Jakarta
Oleh : Johanes Krisnomo
Icha, anak semata wayang. Gadis manis 9 tahun ini, berkulit agak gelap dan bermata bulat. Bersekolah di SD Negeri, kelas 3, Kota Cimahi. Ayah Icha di PHK beberapa tahun lalu, dan tak punya pekerjaan tetap. Meski sebagian uang pesangon telah digunakannya untuk modal buka warung sayur-mayur dan beberapa keperluan sehari-hari, tapi kehidupannya belum beranjak dari kemiskinan.
Di ruang tamu, Icha lahap menyantap sarapan paginya, nasi dan tempe goreng. Icha menyuap nasi dengan sendok tanpa garpu. Matanya tak fokus menatap nasi. Ada rasa bosan, menu makan yang sama hampir tiap hari. Nasi dan tempe goreng.
Tiba-tiba, matanya menatap selembar kertas yang terserak di lantai dekat kursi, tempat Icha duduk. Diambil, dan dibacanya. Ternyata Surat Pemberitahuan dari PLN – Perusahaan Listrik Negara, perihal peringatan akan pencabutan aliran listrik karena telah menunggak dua bulan.
Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tak pernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya, mulai besok rumahnya akan gelap total.
Dahinya terlipat membentuk garis-garis lengkung. Pagi itu, Icha kecewa berat. Ibunya tak memberi uang jajan pula, saat Icha hendak berangkat ke sekolah. Kata ibu, “Uangnya dipakai tadi pagi subuh, untuk keperluan belanja warungnya di pasar.”
Pagi itu, Icha dan Santi berangkat bersama ke sekolah, seperti hari-hari biasanya. Sepanjang perjalanan itu pula, Icha nampak tak begitu semangat becanda kepada Santi.
Meski sudah sarapan, dan kenyang, beberapa temannya sering mengajak Icha jajan. “Aku tak bisa jajan hari ini,“ kata hatinya meratap, saat beranjak dari rumahnya hendak menjemput Santi. ”Apa yang harus kukatakan, kalau Santi mengajakku jajan?”tanya Icha dalam hati.
Kekesalan hati Icha, masih mengendap dalam pikirannya, selama jam belajar hingga pelajaran berakhir. Terlebih lagi, sebelum pulang, Bu Guru menyampaikan pengumuman bahwa akan ada piknik ke Taman Mini Indonesia Indah – Jakarta, selepas penerimaan rapot beberapa bulan ke depan.
Icha membayangkan apa yang diceritakan Bu Guru. Alangkah senangnya piknik bersama teman-teman naik bis, lewat jalan tol yang selama ini belum pernah dilihatnya. Berangkat pagi, dari sekolahnya di kawasan Kota Cimahi sampai Taman Mini, sekitar empat jam perjalanan. Sampai di sana, makan siang, kemudian berkeliling di beberapa anjungan rumah-rumah adat dari seluruh Indonesia, dan kembali ke Cimahi pada siang harinya sekitar jam tiga. Namun, keraguan merasuk dalam hatinya, apakah Ibu mengijinkannya?
Icha berjalan kaki pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari sekolah. Santi berceloteh riang bersama Santi, yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah Icha. Namun, hati Icha terganggu masalah piknik. Tak banyak yang Icha ceritakan kepada Santi.
Santi menatap wajah Icha, kemudian bertanya, “ Kamu ikut, Icha?” Jawab Icha tersendat, “Belum tahu! Coba nanti kutanyakan pada ibu.” Bola mata Icha mengecil, ada guratan menekan di lipatan kelopak matanya. Celoteh mereka berdua terhenti, Santi sampai rumah terlebih dahulu.
Dari balik jendela warungnya, Ibu tersenyum menyambut datangnya Icha. Ada wajah lelah di wajah ibu, matanya sayu menahan susah.
“Ibu ... , Icha pulang!” Icha menyapa ibu dari depan warungnya. Dari pintu samping, Ibu mendekati Icha yang sudah berada di ruang tamu. “ Makanlah Icha, tempe tadi pagi sudah ibu goreng lagi,” kata ibu. “Ganti baju dulu, cuci kaki dan tangan, baru makan ya,”kata Ibu menabahkan. “Baik, Bu,“ jawab Icha sambil berlalu menuju kamar mandi. Setelah badannya bersih, Icha berganti baju dan langsung makan.
Icha masuk kamar, merebahkan badan setelah makan kenyang. Nikmatnya terasa, perut laparnya boleh jadi karena tak jajan di sekolah. Kamar itu berukuran 2.5 x 2.0 meter dengan jendela agak tinggi, lebih dari tinggi badannya, sekitar 120 cm. Ditaruhnya tas sekolah di lemari kecil (1.0 x 1.2 meter), pemberian tetangga sebelah. Dua pintu, kiri untuk baju-baju sedangkan bgn kanannya tas dan alat-alat sekolah. Bagian atasnya, seperti kotak persegi panjang, berisi kumpulan boneka-boneka sejak masih bayi.
“Morat-marit,” gumamnya, “sepertinya perlu dirapikan dan dibersihkan!”
Icha bangun, dan berusaha merapikan susunan boneka di atas lemari dan menepis bagian-bagian yang berdebu. Saat baru saja merapikan boneka, datang Santi berteriak-teriak mengajak bermain. Ada beberapa temannya yang sudah siap menunggu tak jauh dari rumah.
Gagal sementara, rencana Icha merapikan boneka-bonekanya. Santi mengajak bermain game di rumahnya. Ada dua set komputer yang bisa dimainkan bersama teman-temannya. Hingga siang jam setengah empat, akhirnya Icha baru kembali ke rumah.
Icha sesegera mungkin membereskan boneka-bonekanya. Kekecewaannya dilampiaskan dengan cara cepat-cepat menata dan merapikan boneka-boneka di atas lemari di kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Icha terperanjat, “Wach ... rapi, enak dipandang! Icha tampak bersemangat, kantuknya lenyap. Dia punya ide, bagaimana kalau warung ibunya dirapikan dan dibersihkan, seperti boneka-bonekanya. “Pasti tetangga-tetangga senang belanja di rumah!” gumamnya. “Ide hebat ... !” Icha melanjutkan kata hatinya.
Icha keluar kamar tidurnya, sesegera mungkin ingin menemui ibunya. Dia ingin katakan : Ibu, mulai hari ini Icha akan bantu-bantu merapikan dan membersihkan warung. Biar banyak pembeli dan ibu akan banyak uang. Buat bayar listrik juga.
Sepi pembeli, ibu menanti di warungnya seorang diri. Wajah Icha sumringah, ketika menyampaikan niatnya, “Ibu, Icha akan bantu rapikan dan bersihkan warung ya, supaya banyak orang yang senang berbelanja!”
Ibunya terperangah, seolah tak percaya akan ucapan Icha. Bertentangan dengan keseharian yang jarang sekali bantu-bantu ibu di rumah. “ Och ... benar Icha?” Ibu bertanya seolah tak percaya.
Icha mengangguk bangga tanpa diminta, “ Pastilah Bu ...!”
“Mengapa Icha lakukan itu semua, Nak?” Ibu bertanya, dengan sorot mata lembut.
“Mulai besok, Ibu tak perlu repot-repot lagi memberi Icha uang jajan. Ditabung, supaya Icha bisa ikut piknik setelah terima rapot kenaikan kelas 4, beberapa bulan lagi,” kata Icha lirih.
Ibunya menggangguk, namun belum mengerti sepenuhnya, karena Icha belum cerita jelas tentang rencana sekolahnya, piknik ke Jakarta. Pengalaman tahu kesulitan bayar listrik, warung sepi pembeli dan senyum tulus seorang ibu telah merubah perilaku Icha untuk membantu orangtua-nya. (jk*)
Cimahi, 28 Maret 2018
Pak Johanes, terima kasih atas tugas Modul ke-4, ke-5, dan ke-6 yang sudah disampaikan.
BalasHapusDengan membandingkan naskah Icha sebelum revisi dan sesudah revisi, saya melihat ada perbedaan yang Pak Johanes lakukan. Saya percaya Pak Johanes sudah membaca dan memahami komentar serta masukan saya, yang saya posting di blog tanggal 30 Maret 2018.
Perubahan yang menyolok yaitu Bapak memecah satu paragraf menjadi dua, dan membuat kalimat-kalimat langsung, sehingga naskah tersebut tampak lebih hidup.
Namun saya melihat banyak bagian yang saya komentari belum Bapak coba untuk direvisi. Kalau Pak Johanes ada waktu, saya menyarankan Bapak merevisi bagian-bagian tersebut, agar cerita tersebut lebih baik. Anggap saja revisi ini sebagai latihan yang akan membuat Pak Johanes makin trampil menulis cerita anak. Berikut ini tuliskan kembali bagian-bagian yang perlu dipertimbangkan dan direvisi tersebut:
1. Mengenai jalannya cerita, saya masih merasakan paragraf-paragraf tersebut berupa kalimat keterangan bukan kalimat bercerita. Hanya berupa data-data belaka. Mungkin Pak Johanes bisa memperhatikan kembali contoh pendahuluan cerita yang saya buat di bawah ini, —yang saya posting tanggal 30 Maret 2018:
Pagi itu seperti biasa Icha sarapan seorang diri di ruang tamu. Sinar matahari masuk ke dalam rumah melalui kisi-kisi jendela. Burung kecil bercericip di pohon depan rumah, namun anak gadis manis berkulit gelap itu nampak tidak bersemangat. Meskipun nasinya hangat dan tempe gorengnya harum namun hatinya bosan karena hampir setiap hari menu sarapannya sama.
Bapak sudah pergi mencari kerja sejak hari masih gelap. Ibu sedang sibuk di warung sayur-mayur melayani pembeli. Sebagai anak tunggal murid kelas 3 di SD Negeri, tugas Icha hanyalah belajar.
Tiba-tiba pandangan matanya tertuju kepada selembar kertas tergeletak di lantai dekat bangku ia duduk. Icha mengambil kertas itu dan membacanya. Keningnya langsung berkerinyut , kertas itu adalah surat peringatan dari PLN (perusahaan Listrik Negara). Kalau orangtuanya tidak segera membayar listrik yang sudah menunggak dua bulan, maka PLN akan memutuskan aliran listrik di rumah mereka.
Kira-kira begitulah contoh pembukaannya agar paragraf kita tidak kering dan terasa seperti laporan belaka. Ada tokoh utamanya, keterangan waktunya, ada keterangan suasana yang melibatkan unsur panca inderanya, dan ada peristiwa/berita yang akan mengarah kepada masalah dalam cerita tersebut.
Cobalah Pak Johanes melakukan latihan revisi paragraf-paragraf yang lain (yang termuat dalam satu adegan), dengan menerapkan teknik di atas. Misalnya bagian ketika Icha dan ibunya sedang bercakap-cakap di warung. Coba tambahkan bagaimana suasana warung tersebut, bagaimana raut muka dan suara Ibu saat berbicara, demikian juga Icha. Tidak perlu dalam kalimat yang panjang, asalkan melibatkan unsur-unsur di atas: ada tokoh, keterangan waktu, keterangan suasana yang melibatkan panca indera, dan karena tokohnya ada dua orang maka bisa dibuatkan percakapan (kalimat langsung) di antara mereka.
Bersambung ....
BalasHapus2. Menurut saya, masalah utama dalam cerita ini adalah bagaimana Icha bisa mendapatkan biaya piknik ke Jakarta, sementara orang tuanya mengalami masalah keuangan yang melibatkan kesejahteraan buat mereka semua. Jadi dalam cerita ini Pak Johanes memfokuskan perhatian kepada usaha-usaha yang dilakukan Icha untuk mewujudkan keinginannya itu. Hal-hal lain dalam cerita tersebut adalah pelengkap atau pendukung dari masalah utamanya.
Dalam modul yang kita pelajari, sebaiknya masalah yang dialami tokoh sudah dapat disampaikan dalam bagian pendahuluan. Jadi Pak Johanes bisa merevisi cerita dengan mengubah alur cerita tersebut menjadi seperti demikian:
- Di sekolah Icha mendapat kabar bahwa sekolahnya akan mengadakan piknik/study tour ke Jakarta. Icha bersemangat pulang ke rumah ingin memberitahu orangtuanya. Tapi dalam hatinya ia ragu menyampaikan berita itu kepada ibunya, sebab sudah seminggu ini (misalnya) ibu tidak memberi dia uang jajan lagi. Kata ibu, uang jajannya dipakai untuk membeli kebutuhan warung. Ayah yang sedang pergi ke luar kota mencari pekerjaan lain, belum kirim uang ke rumah jadi ibu terpaksa menggunakan uang jajan Icha untuk membeli keperluan warung. Icha mengetahui bahwa orangtuanya sedang menghadapi masalah keuangan.
- Siang itu sepulang dari sekolah, Icha makan di ruang tamu dan secara tidak sengaja menemukan surat teguran dari PLN itu. Penemuan atas surat PLN itu semakin menguatkan pemahaman Icha bahwa orangtuanya sedang menghadapi masalah keuangan yang berat. Namun karena ia sangat ingin ikut piknik maka ia memutuskan untuk cari akal bagaimana menolong orangtuanya menghadapi masalah itu. Sebagai anak kecil tentu kemampuannya menolong hanyalah sebatas kemampuan fisik dan intelektualnya. Kalau untuk mencari uang, Icha tidak bisa bekerja. Lagipula dia masih kecil—berusia 9 tahun. Maka kemungkinan yang bisa ia lakukan adalah menolong ibunya di rumah—membersihkan rumah, merapikan warung atau menjaga warung, merapikan kamar dan bonekanya, dll.
- Icha belum memberitahu orangtuanya tentang keinginannya ikut piknik sekolah, namun ia sudah mengubah sikapnya sehari-hari karena ia ingin menolong orangtuanya dalam menghadapi situasi keuangan mereka yang sulit. Ia tidak bermalas-malasan lagi. Ia membantu ibu mencuci piring sehabis sarapan, membersihkan tempat tidurnya, mencuci perabotan dapur sehabis ibunya memasak, dan menyapu pekarangan. Sementara itu ia berharap semoga orangtuanya mendapat rejeki agar dia bisa ikut piknik, dan ia juga mendoakan bapaknya.
Bersambung ....
BalasHapus- Sementara Icha berusaha menolong orangtuanya, ia mengahadapi konflik-konflik yang berusaha menghambat usahanya mewujudkan keinginannya. Konflik itu bisa berupa Santi, sahabatnya, yang sering mengajak dia main ke rumahnya untuk main game di komputer. Ajakan Santi ini sering menjadi godaan bagi Icha untuk melalaikan niatnya menolong orangtuanya. (Ini yang disebut KONFLIK—ketika tokoh utama menghadapi masalah dalam usahanya mewujudkan keinginannya. Konflik harus terjadi paling tidak dua kali …. yang akhirnya menjadi KLIMAKS yaitu keadaan ketika Icha berhasil mengatasi koflik dan mendapatkan apa yang diinginkan. Mungkin awalnya Icha tidak bisa menolak ketika diajak bermain. Ia pergi bermain dan ketika pulang ke rumah, ia sudah kecapean sehingga badannya jadi malas menolong orangtuanya. Namun ketika diajak lagi untuk kedua kalinya Icha bisa menolak ajakan tersebut. Ia memilih untuk tinggal di rumah membantu ibunya atau belajar membuat PR.
- Sampai pada bagian ini, Icha belum bisa mendapatkan solusi bagaimana mendapatkan uang yang ia butuhkan untuk piknik itu. Maka Pak Johanes sebagai penulis perlu membuatkan jalan keluar (berupa kejutan atau mukjizat yang biasa terjadi jika orang beriman bekerja dengan sungguh-sungguh maka Tuhan akan memberkati mereka dengan rahmat-Nya). Jalan keluar itu bisa macam-macam, misalnya: Bapak pulang dengan membawa kabar gembira bahwa dia mendapat pekerjaan tetap yang lokasinya tidak jauh dari daerah mereka tinggal. Dengan pekerjaan tetap itu, kelak Bapak bisa membiayai biaya piknik Icha ke Jakarta. Jalan keluar lain misalnya: Suatu hari kenalan ibu di pasar (tukang jahit) memberi pekerjaan tambahan buat ibu, yaitu memasang kancing untuk order seragam yang jumlahnya sangat banyak. Ibu memberi kepercayaan kepada Icha untuk membantu melakukan itu, dan Ibu memberi upah kepada Icha – misalnya satu seragam dihargai Rp. 2000 (?) Begitulah kira-kira, Icha akhirnya mendapat uang masukan untuk ditabung supaya dia bisa ikut piknik.
- Ketika Icha memberitahu bahwa ada piknik di sekolahnya, dengan sukacita Icha memberitahu ibunya bahwa ia sudah punya tabungan untuk itu. Ibu dan ayahnya bangga kepada Icha. Icha pun bangga kepada dirinya sendiri bahwa dia dapat berpartisipasi menolong orangtuanya mengatasi kesulitan keuangan di rumah.
Bersambung ....
BalasHapus3. Begitulah kira-kira revisi alur cerita yang saya usulkan, agar dapat memunculkan masalah yang sebenarnya dan di sepanjang cerita tersebut Icha, tokoh utama, menjadi sentral dalam upayanya menyelesaikan masalahnya.
Dalam cerita sebelumnya, orangtua Icha berusaha tidak mengatakan langsung keadaan mereka yang pas-pasan kepada Icha. Mereka juga berusaha tidak membebani Icha dengan tugas-tugas pekerjaan sederhana di rumah. Semua pekerjaan rumah tangga ditangani oleh ibu, maka tidak heran kalau Ibu terkejut saat Icha mau membantu merapikan dan membereskan warung. Maka untuk cerita berikutnya yang sudah direvisi, pembaca akan melihat bahwa bukan hanya Icha yang berubah, sikap ibunya Icha pun berubah. Ia mulai membagi beban dengan anaknya (Icha) supaya Icha juga bisa merasakan pergumulan bersama sebagai satu keluarga.
4. Mengenai uraian secara detail ukuran kamar Icha. Menurut saya untuk cerita anak-anak tidak perlu dituliskan secara detail seperti itu, cukup dituliskan bahwa kamarnya sempit hanya bisa memuat satu tempat tidur kecil, satu lemari kecil dan meja belajar. Demikian juga dengan ukuran jendela, cukup dituliskan saja bahwa jendelanya tinggi. Data-data ukuran yang Pak Johanes berikan itu bisa digunakan sebagai bahan rujukan oleh illustrator, namun tidak dicantumkan di dalam cerita.
Bersambung ....
BalasHapus5. Beberapa komentar dan masukan lain terhadap naskah revisi Pak Johanes:
- Paragraf ke-3, baris ke-2 : kursi, tempat Icha duduk. Diambilnya dan diamatinya. Ternyata Surat Pemberitahuan. Menurut saya kata kalimat yang dihuruf teball itu. Lebih baik diganti dengan kata “Icha mengambil dan membaca kertas itu.” –kalimatnya menjadi kalimat aktif.
- Paragraf ke-4: Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Ibu tida kpernah sekali pun cerita tentang keterlambatan bayar listrik. Artinya mulai besok rumahnya akan gelap total. Menurut saya kalimat pertama itu belum lengkap. Icha terkejut, selama ini baik-baik saja. Apa atau siapa yang baik-baik saja? Sebagai pembaca saya bisa menafsirkan bahwa yang baik-baik saja itu adalah keadaan keluarganya. Selama ini orangtuanya tidak pernah memberitahu bahwa mereka menunggak pembayaran listrik di rumah. Namun untuk suatu cerita kalimat itu perlu diperjelas, misalnya: Icha terkejut, selama ini Ibu tidak pernah bercerita kalau Ibu tidak punya uang untuk membayar listrik.
- Kalau diinformasikan bahwa besok rumah Icha akan gelap total, apakah ibunya Icha tahu soal itu? Kalau Ibu sudah tahu apa yang sudah ia lakukan untuk mengantisipasi mati lampu di rumah? – Pak Johanes perlu memperjelas bagian ini, apakah informasi yang genting itu perlu dituliskan? Atau mungkin dihapus saja? Sebab kalau kalimat itu dicantumkan, Pak Johanes perlu menambahkan cerita bagaimana Ibu dan Icha harus mengantisipasi pemutusan listrik tersebut, yang sudah pasti akan menggangu kenyamanan mereka dan usaha warung.
- Paragraf 7 sampai 10, tidak menunjukkan urutan waktu/sequel yang tepat. Dimulai dengan kalimat “Pagi itu, Icha dan Santi berangkat bersama, seperti hari-hari biasanya… Icha tak begitu semangat bercanda kepada Santi” (paragraf 7). Dengan membaca kalimat itu, pembaca diinformasikan bahwa mereka sedang melakukan kegiatan itu, yaitu berangkat bersama menuju sekolah. Namun di paragraf ke 9-10, ditulis “Aku tidak bisa jajan hari ini,” kata hatinya meratap, saat beranjak dari rumahnya hendak menjemput Santi.
“Apa yang harus aku katakan, kalau Santi mengajakku jajan?” tanya Icha dalam hati.
Jadi apa yang dibayangkan pembaca jadi buyar. Awalnya dibayangkan mereka sedang berjalan berdua menuju sekolah, namun ternyata Icha baru meninggalkan rumahnya hendak menjemput Santi. Jadi keterangan waktunya mundur lagi. Usul saya, susunan keempat paragraf itu direvisi dan alurnya dibuat sequel/sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan keterangan waktunya.
- Paragraf 14, baris pertama: …. “Santi berceloteh riang bersama Santi yang rumahnya hanya berjaraka tiga rumah dari rumah Icha.” Mungkin maksud Pak Johanes, “Icha berceloteh riang bersama Santi…” (?)
Begitulah pendapat dan usul saya untuk merevisi alur cerita yang sudah ada. Semoga Pak Johanes dapat memahaminya. Memang usul ini cukup banyak, namun menurut saya lebih jelas mengangkat masalah dan penyelesaiannya sehingga ceritanya lebih hidup logis. Jika masih ada pertanyaan lagi, silakan Pak Johanes sampaikan. Akan saya respons secepatnya. Atas perhatian Pak Johanes, saya haturkan terima kasih. Semoga komentar dan masukan dari saya tidak menyurutkan semangat Pak Johanes untuk merevisi cerita Icha dan menulis cerita-cerita baru. Tetap semangat! :-D
Terima kasih dan salam sejahtera,
Yunita
Selamat Malam Mbak Yunita,
BalasHapusRupanya daya imaginasi saya masih jauh dari kurang.
Banyak hal tak mampu ditangkap pembaca.
Setelah Mbak kasih koreksi barulah saya lebih menyadari kekurangan saya tsb.
Saya akan perbaiki, semoga Mbak Yunita masih sempat membacanya dan memberi komentar terakhir sblm media ini ditutup.
Salut dan terimakasih atas semangat dan pengorbanan yg telah Mbak berikan buat saya. Dan itu sangat mendalam,serta tidak mungkin didapat di tempat lainnya. Akan saya coba koreksi,sampai kapankah media ini ditutup?
Bila tak ada waktu lagi, saya pikir tetap diperbaiki sesuai saran mbak.
Sekali lagi terimakasih, dan Mbak Yunita memang seorang penulis dan editor hebat sperti yg disampaikan Mbak Sylvia.
Dan saya ingat apa kata2 penyemangat dari Mbak Fida, bahwa kaarena saya murid tunggal, maka saya pun akan mendapatkan perhatian yg saangat berlebih. Saya tetap semangat dan akan merinci satu persatu apa yg mbak Yunita srankan.
Terimakasih yg tak terhingga utk Mbak Yunita, Mbak Fida dan HOKI.
Salam Sukses Buat kita semua.
Johanes Krisnomo
Cimahi - Bandung, 20 April 2018, 21.15
Sehat Bahagia Buat Kita Semua.
Terima kasih Pak Johanes atas responsnya yang positif. Tentu saja dengan senang hati saya akan sempatkan merespons revisi tugas Bapak, kalau sempat dikirim balik kepada saya. Semoga Pak Johanes tidak patah semangat kalau perlu merevisi lagi. Memang begitulah proses yang harus dilalui seorang penulis, perlu bersedia merevisi dan terkadang perlu menulis ulang agar karyanya lebih baik dan baik lagi. Kegiatan menulis adalah kombinasi kegiatan yang "fun", menyenangkan namun diserta kerja keras untuk menghasilkan karya yang baik. Saya suka dengan tema-tema cerita anak yang Pak Johanes pernah sharingkan. Saya merasakan ada unsur "fun", kenakalan atau kecerdikan anak-anak, juga pelajaran berharga buat anak. Saya yakin Pak Johanes pasti akan bisa membuat cerpen-cerpen untuk anak-anak, siapa tahu kelak bisa dibuat kumpulan cerpen dengan tema tertentu dan bisa diterbitkan :-) Ayo, tetap semangat, ya, Pak. Salam sukses untuk kita semua. Salam sejahtera.=== Yunita
BalasHapus